Telkom University Resmi Luncurkan Fakultas Kedokteran Berbasis AI

Fakultas Kedokteran
Mahasiswa dan pimpinan Telkom University berpose bersama usai penyerahan fasilitas pendukung pendidikan pada acara launching Fakultas Kedokteran Telkom University di kampus, Rabu (7/10/2026).
0 Komentar

“Jadi, kombinasi antara genom dan exposum analytics yang dilakukan secara presisi dan prediktif inilah yang menghasilkan sebuah teknologi kedokteran masa depan,” imbuhnya.

Untuk menjaga kualitas, Prof. Suyanto menyebut, FK Tel-U sengaja membatasi kuota mahasiswa baru pada angka 50 orang. Kebijakan ini merujuk pada ketentuan kementerian terkait. “Itu kebijakan untuk menjamin kualitas, karena ini menyangkut nyawa manusia. Jadi nggak boleh berlebihan, takutnya lulusannya nanti nggak berkualitas,” tegas Prof. Suyanto.

Sebagai bentuk komitmen sosial, Tel-U juga menyediakan dua skema beasiswa. Beasiswa Unggulan Penuh menanggung seluruh biaya studi hingga lulus, termasuk fasilitas asrama, sehingga mahasiswa hanya perlu mempersiapkan biaya hidup mandiri.

Baca Juga:Upstream Youth Champs 2026 Ajak Mahasiswa ITENAS Kenali Industri Hulu MigasPublic Speaking Training: Bekal Bicara yang Lebih Bermakna

Pertaruhan Generasi Pertama

Di lokasi yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Dr.med. dr. Setiawan, menyampaikan pesan yang lebih dalam. Baginya, pembukaan FK Tel-U justru menjadi pertaruhan besar bagi generasi pertama mahasiswanya.

“Saya melihat fenomena. Seringnya di pendidikan kedokteran kita berhenti di ilmu saja. Nah, ini kami berharap Tel-U, karena generasi pertama biasanya beda. Dia tidak punya kakak, maka harus survive di sini,” kata Setiawan dalam acara launching FK Tel-U.

Menurutnya, generasi perdana ini harus menjadi contoh. Setiap ilmu yang baru diperoleh langsung dipraktikkan untuk diri sendiri. Ia mencontohkan mahasiswa yang maju membacakan janji. Dari sisi kesehatan, masih ada yang perlu diperbaiki. Dengan 45 dosen dan 26 mahasiswa pada data awal, pembinaan seharusnya lebih mudah dilakukan.

“Generasi pertama ini menjadi pertaruhan menurut saya. Dari sisi teknologi, saya sudah tidak ragu. Tel-U sudah punya kekuatan. Tapi justru aspek kompetensi sebagai dokter yang punya kemampuan transformasi diri yang harus kuat,” tegasnya.

Setiawan, yang juga guru besar di bidang exercise physiology Universitas Padjadjaran ini, mengingatkan soal gaya hidup sehat. “Saya kebetulan jogger. Dari 80 yang ikut, hanya di bawah 20 yang bisa mengikuti, padahal pace sangat rendah. Karena mereka tidak pernah olahraga. Mager itu salah satu problem,” ungkapnya.

Dia menekankan bahwa kesehatan mahasiswa harus dimulai dari diri sendiri. Harapan besar tetap ada, terutama karena tambahan kemampuan teknologi yang dimiliki Tel-U. Ke depan, pendekatan ini diharapkan menjadi baku melalui program Kampus Sehat. Kemendikbudristek telah bekerja sama dengan Kemenkes mengembangkan pedoman bersama yang diturunkan dari WHO, AUN, hingga versi Indonesia. Pedoman itu berlaku tidak hanya untuk mahasiswa kedokteran, melainkan seluruh sivitas akademika.

0 Komentar