Menakar Peluang Bisnis Kopi Jawa Barat di Pasar Ekspor

Pelaku usaha kopi asal Lembang, Abah Kurnia Danu Miharja. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
Pelaku usaha kopi asal Lembang, Abah Kurnia Danu Miharja. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pasar menjadi kunci pengembangan bisnis kopi Jawa Barat di tengah kenaikan biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat.

Pelaku usaha kopi asal Lembang, Abah Kurnia Danu Miharja (68), mengatakan pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan modal untuk mengembangkan bisnis. Akses pasar, kualitas produk, kesinambungan produksi, dan kepercayaan mitra menjadi faktor penting yang harus dijaga.

“Kalau kita berjalan sendiri dengan modal sendiri, melangkah itu terasa seret. Tidak bisa kita berdiri sendiri. Harus ada pihak lain yang terlibat,” kata Abah Kurnia di Lembang, Kamis (8/10/2026).

Baca Juga:Renovasi Stadion Kaliki Dilanjutkan, Aktivis dan KONI Desak Standar PSSICegah Risiko Gempa, Rapid Indonesia, Semut Tangsel, dan IEA Edukasi Siswa PKBM Binar

Ia menilai keterbatasan modal tidak seharusnya menjadi alasan bagi pelaku usaha untuk berhenti berkembang. Kerja sama dengan perbankan, investor maupun mitra usaha dapat menjadi alternatif selama pelaku usaha mampu menjaga kualitas dan keberlangsungan usahanya.

Pemerintah juga kata dia memiliki peran penting dalam membuka akses tersebut. Bukan hanya melalui bantuan permodalan, tetapi juga mempertemukan pelaku usaha dengan perbankan, investor, calon pembeli hingga pasar yang lebih luas.

“Banyak investor mencari usaha yang berpotensi, namun belum tersambung. Pemerintah bisa menjadi jembatan antara pelaku usaha dengan investor, bank, pembeli hingga pasar ekspor,” ujarnya.

Abah Kurnia mencontohkan sejumlah produk lokal yang mampu menembus pasar luar negeri. Sapu lidi, misalnya, memiliki permintaan dari Arab Saudi, anyaman bambu diminati pasar Amerika Serikat, sedangkan bawang goreng dari Kuningan telah masuk Singapura.

Menurut dia, contoh tersebut menunjukkan bahwa peluang pasar tidak selalu berada di sekitar tempat usaha. Produk lokal dapat memiliki nilai ekonomi lebih besar apabila pelaku usaha mampu menemukan pasar yang tepat dan memenuhi kebutuhan pembeli.

“Bank memang punya aturan tersendiri, plafon pinjaman tidak bisa disamakan antara usaha kecil dengan korporasi besar. Di sinilah pemerintah perlu hadir untuk mendampingi dan menjembatani, bukan sekadar melepaskan begitu saja setelah dana cair,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas, jumlah produksi, kesinambungan pasokan dan kejujuran dalam membangun kerja sama. Sebab, kepercayaan menjadi salah satu modal utama dalam menjaga keberlangsungan bisnis.

0 Komentar