Dari pameran tersebut, ia mendapatkan sejumlah calon pembeli dari Eropa. Pengiriman pertama bahkan berhasil dilakukan pada Januari 2020.
Namun, pandemi Covid-19 datang tak lama kemudian. Aktivitas bisnis terhenti dan komunikasi dengan pembeli dari Jerman ikut terputus. Pembeli tersebut bahkan tidak lagi dapat dihubungi.
Abah Kurnia pun kembali memperkuat pasar dalam negeri. Kopinya dipasarkan hingga Kalimantan dan Bali. Kebun yang dikelolanya juga berkembang menjadi tempat belajar bagi mereka yang ingin mengenal budidaya dan pengolahan kopi.
Baca Juga:Bandung Barat Ubah Paradigma Pengelolaan Aset, Dari Sekadar Tercatat Menjadi Bernilai ManfaatPanas Bumi Galunggung Dipromosikan untuk Gaet Investor
Sejumlah guru sekolah kejuruan dari berbagai daerah, termasuk Papua dan Maluku, pernah datang untuk belajar langsung di kebun Tonas Coffee.
Namun, perjalanan Tonas Coffee bukan hanya soal bagaimana sebuah kopi ditanam hingga sampai ke tangan konsumen. Di balik namanya, tersimpan kisah keluarga yang membuat usaha tersebut memiliki arti jauh lebih dalam bagi Abah Kurnia.
Nama Tonas sebenarnya bukan nama pertama yang dipilih. Sebelumnya, Abah Kurnia menggunakan nama Arjuna. Namun, nama tersebut tidak dapat didaftarkan karena sudah banyak digunakan.
Nama Tonas kemudian muncul dari gagasan putra bungsunya, Cantona Yusuf, yang akrab disapa Tona.
Pada 2018, Tona meninggal dunia akibat kecelakaan. Belum genap dua bulan setelah kepergian sang anak, ibunya juga meninggal dunia.
Duka tersebut membuat keluarga berada dalam masa sulit. Namun, nama Tonas justru dipertahankan sebagai bentuk penghormatan kepada Tona.
Nama itu kemudian didaftarkan sebagai HAKI dan terus dikembangkan sebagai identitas usaha keluarga. Bagi Abah Kurnia, mempertahankan Tonas bukan hanya tentang sebuah merek, tetapi juga tentang meneruskan sesuatu yang pernah digagas oleh putranya.
Baca Juga:AQUA DBL Dance Jadi Panggung Anak Muda Ekspresikan Wastra NusantaraKerja ke Jepang Dibuka untuk Perempuan Tasikmalaya, Kuota Hanya 10 Orang
“Kami bangkit kembali. Nama Tonas adalah penghormatan sekaligus janji melanjutkan apa yang telah ia mulai,” ujar Abah Kurnia.
Kini, Tonas Coffee terus berjalan dengan satu prinsip yang dijaga Abah Kurnia, yakni mempertahankan kualitas sejak dari kebun hingga menjadi produk. Ia percaya kopi Lembang memiliki karakter yang lahir dari lingkungan tempatnya tumbuh.
Material vulkanik Gunung Tangkuban Perahu, kondisi perkebunan dan perbedaan musim panen dengan sejumlah daerah penghasil kopi di Sumatra menjadi bagian dari karakter tersebut.
