Raisan menilai, fotografi jurnalistik memiliki tantangan tersendiri karena seorang pewarta foto harus turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi yang direkam sesuai dengan fakta.
“Sebagai pewarta foto yang bekerja di lapangan, kita wajib melakukan cross-check secara langsung di lapangan. Justru di situlah tantangannya,” katanya.
Salah satu karya yang menjadi sorotan dalam kategori Jurnalistik mengangkat persoalan kekeringan di Surakarta, Jawa Tengah. Karya tersebut meraih juara pertama karena dinilai mampu merepresentasikan kondisi kekeringan sekaligus berkaitan dengan isu yang sedang berkembang.
Baca Juga:295 Pedagang Ditata, Alun-Alun dan Terminal Singaparna Diproyeksikan Bebas PKL serta Parkir LiarPreman dan Jukir Ilegal Disisir, Pejual Miras Kena Sikat di Singaparna
Raisan mengatakan, pertimbangan kurator juga berkaitan dengan pemberitaan mengenai potensi dampak kekeringan yang diperkirakan dapat dirasakan sekitar 450 ribu orang pada tahun mendatang.
“Karena ini kategori jurnalistik, foto tersebut dinilai mampu mengaitkan karya fotografi dengan isu yang sedang berkembang dan menjadi perhatian saat ini,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa pemenang kategori Portrait Photography, Fajar Hadi Ramadhani, mengangkat kisah seorang penyintas yang kehilangan anaknya dalam peristiwa penembakan saat demonstrasi di Trisakti.
Karyanya diberi judul “Menolak Mati Ingatan”. Foto tersebut menggambarkan sang ibu yang tengah memegang foto anaknya. Di belakangnya terdapat museum kecil yang dibuat di kamar sang anak, berisi penghargaan dan berbagai barang peninggalan.
Fajar mengatakan, sosok perempuan dalam fotonya merupakan ibu dari salah satu mahasiswa yang menjadi korban dalam peristiwa Trisakti.
“Beliau bisa disebut sebagai penyintas karena putranya merupakan satu-satunya anak laki-laki dari 15 bersaudara. Kehilangan putranya menjadi tamparan keras bagi beliau,” kata Fajar.
Menurutnya, keberadaan museum kecil di kamar sang anak menjadi bagian penting dari cerita yang ingin disampaikan melalui foto tersebut.
Baca Juga:Pria 63 Tahun Ditemukan Tewas di Dasar Sumur Sedalam 19 Meter, Evakuasi Berlangsung DramatisPenawaran SUN Tembus Rp42,87 Triliun, Pemerintah Serap Rp28,8 Triliun
Ia ingin menunjukkan upaya sang ibu mempertahankan ingatan terhadap anaknya agar kisah dan sosok tersebut tidak hilang begitu saja.
“Kenapa diberi judul ‘Menolak Mati Ingatan’? Karena saya ingin menggambarkan bagaimana beliau berusaha agar anaknya tidak dilupakan. Jadi, semacam upaya untuk menjaga ingatan tentang anaknya agar tetap hidup dan tidak hilang begitu saja,” ujarnya. (Wit)
