Tak Cukup Vaksinasi, Dispernakan KBB Dorong Pengendalian Populasi HPR

Tak Cukup Vaksinasi, Dispernakan KBB Dorong Pengendalian Populasi HPR
Petugas kesehatan hewan menyuntikkan vaksin rabies kepada kucing peliharaan sebagai upaya mencegah penularan rabies. Dok Dispernakan KBB
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tingginya populasi anjing liar menjadi salah satu tantangan Kabupaten Bandung Barat (KBB) dalam mengejar target Indonesia Bebas Rabies 2030.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengendalian populasi, tetapi juga cakupan vaksinasi Hewan Penular Rabies (HPR) yang hingga kini belum mencapai 70 persen populasi.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti, mengatakan kedua persoalan tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya menekan risiko penyebaran rabies di wilayah KBB.

Baca Juga:Dispernakan Bandung Barat Perketat Pencegahan Rabies Lewat Vaksinasi Massal HPRMenjaga Cimahi Bebas Rabies, Dispangtan Genjot Vaksinasi Hewan Tanpa Biaya

“Cakupan vaksinasi HPR belum mencapai 70 persen populasi yang menjadi syarat kekebalan kelompok. Selain itu, tantangan lainnya adalah tingginya populasi anjing liar dan kesadaran masyarakat untuk menjadi pemilik hewan yang bertanggung jawab,” kata Wiwin, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, keberadaan HPR yang berkeliaran bebas dapat meningkatkan peluang terjadinya kontak dengan manusia maupun hewan lain. Risiko tersebut juga masih terbuka karena lalu lintas hewan di KBB cukup tinggi.

Meski kasus positif rabies pada hewan terakhir ditemukan pada 2020 dan kasus rabies pada manusia tercatat terakhir pada 2023, KBB masih berstatus sebagai daerah tertular rabies. Laporan gigitan HPR pun masih ditemukan.

“Risiko terhadap rabies tetap ada karena lalu lintas hewan yang tinggi dan banyaknya hewan liar penular rabies,” ujarnya.

Karena itu, pencegahan rabies tidak cukup hanya dilakukan melalui vaksinasi. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan tidak membiarkan hewan peliharaan berkeliaran, memberikan perawatan yang layak, serta melakukan vaksinasi dan sterilisasi.

Wiwin menjelaskan, vaksinasi rabies memiliki efektivitas lebih dari 95 persen dalam mencegah penyakit tersebut. Vaksin pertama dapat diberikan kepada anjing maupun kucing sejak berusia minimal empat bulan dan dilanjutkan dengan booster setiap tahun.

Di sisi lain, Dispernakan KBB juga menjalankan program sterilisasi kucing bersubsidi sebagai salah satu upaya mengendalikan populasi hewan. Program tersebut menargetkan 100 kucing jantan dan 100 kucing betina.

Baca Juga:Jelang Hari Rabies Sedunia, Dispernakan KBB Tingkatkan Kewaspadaan Gigitan HewanCegah Rabies, Dispernakan Bandung Barat Sediakan 4.000 Dosis Vaksin HPR

“Dalam momentum World Rabies Day 2026, vaksinasi rabies gratis juga terus dilakukan dengan target 2.000 dosis melalui kolaborasi dengan dokter hewan, klinik hewan swasta, mitra usaha, komunitas dan masyarakat,” kata Wiwin.

0 Komentar