KBB Dikepung 82 Kejadian Kebakaran Sepanjang September 2026

Petugas Damkar saat memadamkan api yang melahap ilalang di Bandung Barat. Dok Damkar KBB
Petugas Damkar saat memadamkan api yang melahap ilalang di Bandung Barat. Dok Damkar KBB
0 Komentar

JABAR EKSPRES – September 2026 menjadi periode paling rawan kebakaran di Kabupaten Bandung Barat (KBB) sepanjang tahun ini. Dalam satu bulan saja, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) KBB mencatat 82 kejadian.

Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Bahkan, kasus kebakaran pada September menyumbang lebih dari seperempat dari total 292 kejadian yang tercatat Damkar KBB sepanjang Januari hingga September 2026.

Data Damkar KBB menunjukkan, peningkatan kasus mulai terlihat sejak Juli. Pada bulan tersebut tercatat 73 kejadian, kemudian 67 kejadian pada Agustus dan kembali meningkat menjadi 82 kejadian pada September.

Baca Juga:Hotel Platinum Yogyakarta Gunakan CNG, Efisiensi Biaya Operasional Capai 30 PersenDua Tahun Beruntun, Kabupaten Tasikmalaya Sabet Juara 1 TPID Award Jawa-Bali

Kondisi tersebut membuat tiga bulan terakhir menjadi periode dengan frekuensi kebakaran paling tinggi sepanjang 2026. Jika ditotal, sebanyak 222 kejadian atau sekitar 76 persen dari keseluruhan kasus terjadi hanya dalam kurun Juli hingga September.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan KBB, Siti Aminah Anshoriah, mengatakan tingginya kejadian dalam beberapa bulan terakhir menjadi perhatian karena menunjukkan adanya peningkatan risiko kebakaran di wilayah KBB.

“September menjadi bulan dengan kejadian paling tinggi sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut menjadi perhatian kami untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, baik dari sisi personel maupun armada,” kata Siti, Jumat (25/9/2026).

Menurutnya, kesiapan petugas tidak hanya diperlukan ketika menerima laporan kebakaran, tetapi juga untuk memastikan respons dapat dilakukan secepat mungkin setelah informasi diterima.

“Kami terus memastikan kesiapan personel dan armada di lapangan. Semakin cepat laporan diterima, semakin besar peluang api dapat ditangani sebelum meluas,” ujarnya.

Siti juga meminta masyarakat tidak menunda pelaporan ketika menemukan tanda-tanda kebakaran. Asap, percikan api maupun kondisi lain yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran perlu segera diinformasikan kepada petugas.

“Jangan menunggu api membesar. Kalau melihat ada indikasi kebakaran, segera laporkan sehingga petugas bisa bergerak lebih cepat,” tuturnya.

Baca Juga:Chemistry Jonas Rivanno dan Adinda Azani di Cinta Seluas Samudra, Bermula dari Candaan hingga Jadi PasanganIMarugame Udon Kaliurang Gunakan CNG, Gagas Perkuat Layanan Energi untuk Pelanggan Usaha

Selain respons cepat, ia menilai kewaspadaan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam menekan risiko kebakaran. Penggunaan peralatan listrik, aktivitas yang melibatkan api, serta kondisi lingkungan yang memiliki material mudah terbakar perlu mendapat perhatian.

“Kesiapsiagaan bukan hanya tugas pemadam kebakaran. Pencegahan dan kewaspadaan dari masyarakat juga sangat menentukan agar kejadian kebakaran tidak semakin bertambah,” pungkasnya. (Wit)

0 Komentar