JABAR EKSPRES – Ruang publik seharusnya menjadi tempat yang dapat dinikmati semua orang, termasuk anak dengan Cerebral Palsy (CP) dan keluarganya. Semangat itulah yang diwujudkan Billy Martasandy, Ph.D, bersama Dian Rahmawati S.Psi., CH., CHt., dengan mengajak keluarga Cerebral Palsy Betacici menikmati waktu bersama di bioskop XXI.
Kegiatan tersebut bukan sekadar agenda hiburan. Pertemuan sederhana di ruang publik itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang sosial yang inklusif sekaligus memperkuat dukungan psikologis bagi keluarga Cerebral Palsy.
Bagi keluarga yang setiap hari mendampingi anak dengan Cerebral Palsy, kesempatan untuk keluar rumah, bertemu dengan keluarga lain, tertawa bersama, dan menikmati hiburan dapat memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar rekreasi.
Baca Juga:Dua Tahun Berjuang Buka C1 Plano, Sengketa Pemilu 2024 Tasikmalaya Kini Masuk Babak Eksekusi PTUNKenal di Rinjani, Lanjut Naik Kerinci, Pasangan Ini Akhirnya Menikah
Dukungan psikologis tidak selalu harus hadir dalam bentuk konseling formal. Kadang, dukungan dimulai dari hadir, mendengarkan, menerima, dan menciptakan ruang agar keluarga merasa tidak berjalan sendirian.
Dari Pendampingan Psikologis Menuju Ruang Sosial yang Inklusif. Dian Rahmawati melihat bahwa kebutuhan keluarga Cerebral Palsy tidak hanya berkaitan dengan terapi dan kebutuhan fisik anak. Orang tua juga membutuhkan dukungan emosional, relasi sosial, serta kesempatan untuk tetap menjalani kehidupan sosial secara sehat.
“Ketika orang tua memiliki ruang untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan menikmati waktu bersama, itu menjadi bagian dari dukungan psikologis. Keluarga tidak hanya membutuhkan informasi tentang bagaimana mendampingi anak, tetapi juga membutuhkan ruang untuk merasa diterima dan dikuatkan,” ujar Dian.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pentingnya keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam pemberdayaan penyandang disabilitas. Kementerian Sosial juga menekankan bahwa penanganan isu disabilitas membutuhkan partisipasi keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak secara inklusif.
Karena itu, kegiatan sederhana seperti menonton film bersama dapat dilihat sebagai bagian dari membangun social inclusion ketika keluarga Cerebral Palsy tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi hadir sebagai bagian dari masyarakat.
Sedangkan Billy: Inklusi Harus Dirasakan, Bukan Sekadar Dibicarakan. Billy Martasandy menilai bahwa inklusi tidak cukup berhenti pada kegiatan seremonial atau kampanye.
Menurutnya, masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk hadir bersama kelompok penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari.
