Mural Jadi Pembeda, Gapura Warga Bandung Menang Lomba Hias SariWangi

Mural Kota Bandung
Mural di sepanjang tembok gang di Kota Bandung menggambarkan aktivitas keseharian masyarakat.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kreativitas warga dalam menghias lingkungan menjadi bagian dari perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Dalam Lomba Hias Gapura yang digelar SariWangi melalui program Waktunya Ngeteh Indonesia, gapura karya warga Bandung ditetapkan sebagai juara pertama.

Pengumuman pemenang dilakukan di Jakarta pada Senin, 21 September 2026. Juara kedua diraih warga Yogyakarta, sedangkan warga Malang menempati posisi ketiga.

Lomba tersebut menerima sekitar 500 karya dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 178 perumahan atau lingkungan mendapat dukungan khusus untuk memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan RI pada Agustus lalu.

Baca Juga:Dari Gedung Merdeka, Pemuda Persis Teguhkan Arah GerakanPraperadilan Kedua Eks Pengurus Gereja di Bandung Kembali Tak Dikabulkan, Hakim Nyatakan Penetapan Tersangka

Gapura warga Bandung menjadi juara pertama karena menawarkan konsep yang tidak hanya menampilkan ornamen pada pintu masuk kampung. Warga juga membuat mural di sepanjang tembok gang yang menggambarkan aktivitas keseharian masyarakat.

Mural tersebut mengangkat cerita tentang kebersamaan warga, mulai dari saling membantu hingga menjaga lingkungan. Pembuatan gapura dan mural dilakukan secara gotong royong.

“Ide gapura ini muncul waktu kami membicarakan bagaimana caranya membuat 17-an tahun ini berbeda dari biasanya. Selain gapura, kami juga ingin membuat sesuatu yang lebih tahan lama, jadi kami sepakat bikin mural di sepanjang tembok gang,” kata Samsul Huda M, pemenang pertama dari Bandung.

Menurut Samsul, warga terlibat sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bagi mereka, pembuatan gapura bukan sekadar kegiatan mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan.

Gapura karya warga Yogyakarta yang meraih juara kedua mengusung bambu sebagai material utama. Desain tersebut dipadukan dengan simbol secangkir teh sebagai gambaran kehangatan dan interaksi antarwarga.

“Kami memilih secangkir teh sebagai simbol kehangatan, karena minum teh itu sederhana tapi sering jadi awal untuk berkumpul antarwarga,” ujar Muh Rohmadi, pemenang kedua dari Yogyakarta.

Ia mengatakan penggunaan bambu juga memiliki makna tersendiri. Satu batang bambu dinilai sederhana, tetapi ketika disatukan akan menjadi lebih kuat. Konsep tersebut diterapkan untuk menggambarkan kekuatan warga ketika bekerja bersama.

Baca Juga:PKW 2026, LKP Nuning Kembali Cetak Pengusaha Baru Bidang Tata Rias PengantinDago, Manekin, dan Pelajaran Sederhana tentang Menyelamatkan Nyawa

Sementara itu, gapura warga Malang yang meraih juara ketiga menggabungkan simbol nasional dengan teknologi. Warga menampilkan figur Garuda bersayap lebar dan papan LED berjalan yang memuat pesan-pesan perayaan HUT RI.

0 Komentar