“Pengembangan teknologi harus menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Melalui Terawang, kami berupaya menghadirkan pendekatan untuk deteksi dan pemeriksaan kondisi internal pohon. Ke depan, teknologi ini diharapkan terus dikembangkan dan berkontribusi bagi kemajuan arborikultur Indonesia,” jelas Dr. Akhmadi.
Kegiatan juga dirangkaikan dengan pelantikan Pengurus Baru MArI Komisi Daerah Jawa Barat. Dr. Ir. Yayat Hidayat, S.Hut., M.Si., dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, dilantik sebagai Ketua. Pelantikan menjadi momentum memperkuat peran MArI Jawa Barat dalam membangun jejaring dan ekosistem arborikultur yang lebih profesional. Kolaborasi organisasi profesi, perguruan tinggi, pemerintah, praktisi, dan pemangku kepentingan diharapkan mendorong kemajuan bidang ini, terutama pengelolaan pohon dan ruang hijau perkotaan.
“MArI Komisi Daerah Jawa Barat diharapkan menjadi wadah mempertemukan berbagai pihak membangun ekosistem arborikultur profesional, aman, dan berkelanjutan. Kolaborasi kunci menghubungkan keilmuan, teknologi, standar profesional, dan kebutuhan praktik di lapangan,” ujar Dr. Yayat.
Baca Juga:Tak Perlu Antre Lama, Klaim BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Lewat Antrean Online5.000 Buruh Jabar Geruduk DPR, Desak RUU Reforma Agraria Disahkan
Mini workshop diikuti sejumlah mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan ITB. Kehadiran mereka memberi kesempatan generasi muda memahami perkembangan ilmu arborikultur, teknologi terkini, dan keterkaitannya dengan perekayasaan hutan, khususnya pengelolaan pohon di kawasan perkotaan.
Bagi mahasiswa, perkembangan arborikultur menunjukkan bahwa perekayasaan hutan tidak terbatas pada ekosistem hutan konvensional, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengelolaan sumber daya pohon di berbagai lanskap, termasuk lingkungan perkotaan.
“Mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana ilmu kehutanan, rekayasa, teknologi, dan standar profesional saling terhubung dalam praktik arborikultur. Ini wawasan penting memahami tantangan pengelolaan pohon di masa depan,” disampaikan dalam diskusi.
Melalui mini workshop ini, MArI berharap memperkuat kesadaran dan kolaborasi berbagai pihak membangun masa depan arborikultur Indonesia. Perkembangan IPTEK, penguatan standar profesional, dan inovasi teknologi seperti Terawang menjadi langkah menuju praktik yang berbasis pengetahuan, profesional, aman, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya pengembangan ekosistem arborikultur di Jawa Barat untuk menjaga pohon dan ekosistem perkotaan sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi tantangan pengelolaan lingkungan hijau di masa depan. (bbs)
