Ia menilai kondisi sungai terkadang terlihat lebih baik pada waktu tertentu. Salah satunya saat akhir pekan atau ketika terdapat aktivitas pengambilan sampel air oleh pihak perusahaan.
“Biasanya hari Minggu paling mending. Saat ada pengambilan sampel air juga debitnya kecil dan busanya tidak ada. Tapi setelah selesai, kondisinya kembali seperti ini,” tuturnya.
Menurut Didin, pencemaran tersebut turut berdampak terhadap kehidupan ikan di Sungai Cihaur. Populasi ikan terus berkurang hingga hanya beberapa jenis yang masih mampu bertahan.
Baca Juga:Trinitas Bandung Targetkan Final DBL West Java-East, Perbaiki Titik Lemah Musim LaluPenabur Cirebon Incar Gelar Juara, Defense Jadi Fokus Utama di DBL West Java-East
“Ikan sekarang sudah banyak yang habis. Yang masih bertahan paling ikan gabus,” katanya.
Kondisi air yang tercemar juga membuat Didin tidak berani menggunakan air Sungai Cihaur untuk mengairi tanaman palawija miliknya. Ia khawatir air tersebut justru merusak tanaman sebelum memasuki masa panen.
“Saya tidak berani menggunakan air sungai untuk menyiram tanaman palawija. Kalau kena daunnya, tanaman bisa langsung layu,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Ajo (40), warga lainnya. Ia memilih mengambil air dari bagian hulu yang lokasinya cukup jauh dari saluran pembuangan untuk mengairi tanaman palawija.
“Terpaksa ambil air dari bagian atas karena kalau menggunakan air dari sini takut tanaman rusak,” kata Ajo.
Menurutnya, pencemaran Sungai Cihaur bukan hanya berdampak terhadap petani, tetapi juga warga yang selama ini mencari ikan di sungai tersebut.
“Sungai yang tercemar jelas merugikan petani dan nelayan. Ikan juga semakin sulit didapat,” ujarnya.
Baca Juga:Drawing DBL West Java-East 2026 Rampung, 54 Tim Kini Tahu Lawan PerdanaCharets Bandung Andalkan Generasi Baru untuk Pertahankan Takhta
Ajo berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk memastikan sumber pencemaran dan menghentikan pembuangan limbah ke Sungai Cihaur.
Ia mengaku sekitar setahun lalu pernah menyaksikan ikan mati secara massal di sungai tersebut. Saat itu, ikan yang mati bahkan disebut mencapai satu karung.
“Sekitar setahun lalu saya pernah melihat ikan mati massal di sini. Sampai bisa terkumpul satu karung. Sekarang sudah tidak ada lagi, mungkin karena ikannya memang sudah habis,” pungkasnya.
Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB mengaku telah mengantongi identitas perusahaan yang diduga menjadi sumber aliran limbah ke Sungai Cihaur.
