Sebulan Usai Diselidiki DLH KBB, Limbah Kembali Cemari Sungai Cihaur

Sungai Cihaur di Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, KBB kembali tercemar limbah pabrik. Dok Jabar Ekspres/
Sungai Cihaur di Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, KBB kembali tercemar limbah pabrik. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pencemaran Sungai Cihaur di Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kembali terjadi.

Ironisnya, kondisi tersebut muncul setelah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB dan Pemprov Jabar turun ke lokasi dan mengambil sampel untuk mengusut sumber limbah pada Agustus lalu.

Pada Jumat (11/9/2026), aliran limbah kembali terlihat mencemari Sungai Cihaur. Kondisi tersebut bahkan viral di media sosial, video tersebut memperlihatkan air sungai berubah warna dan dipenuhi busa putih.

Baca Juga:Trinitas Bandung Targetkan Final DBL West Java-East, Perbaiki Titik Lemah Musim LaluPenabur Cirebon Incar Gelar Juara, Defense Jadi Fokus Utama di DBL West Java-East

Tak hanya mengubah kondisi air, pencemaran tersebut juga mulai mengganggu aktivitas warga yang selama ini menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari Sungai Cihaur.

Berdasarkan keterangan sejumlah warga di lokasi, aliran sungai kerap berubah warna menjadi merah dan dipenuhi busa. Bau menyengat juga tercium dari aliran sungai yang bermuara ke Waduk Saguling tersebut.

Limbah cair diduga mengalir dari sebuah saluran pembuangan berukuran besar yang berada tepat di sisi sungai. Cairan berwarna merah terlihat keluar dari saluran yang tertanam di bawah tanah sebelum bercampur dengan aliran Sungai Cihaur.

Warga menyebut pencemaran tersebut bukan kali pertama terjadi. Kondisi serupa disebut telah berlangsung selama puluhan tahun dengan karakteristik limbah yang berbeda-beda, bahkan terkadang disertai aliran limbah bersuhu panas hingga menimbulkan kepulan seperti asap.

Didin (50), warga yang juga berprofesi sebagai petani di sekitar bantaran Sungai Cihaur, mengatakan pencemaran tersebut telah berlangsung sekitar 25 tahun.

“Pagi tadi sekitar pukul 08.30 WIB sudah terlihat lagi limbahnya mengalir ke sungai,” ujar Didin saat dikonfirmasi, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, warga tidak mengetahui secara pasti perusahaan yang menjadi sumber limbah tersebut. Namun, informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebut pencemaran diduga berasal dari aktivitas industri pencelupan kain.

Baca Juga:Drawing DBL West Java-East 2026 Rampung, 54 Tim Kini Tahu Lawan PerdanaCharets Bandung Andalkan Generasi Baru untuk Pertahankan Takhta

“Kalau sumber pastinya saya tidak tahu. Warga hanya menduga dari aktivitas pencelupan kain,” katanya.

Didin mengatakan warna limbah yang masuk ke sungai juga tidak selalu sama. Kondisi tersebut terkadang membuat air sungai berubah menjadi merah, hitam maupun putih dan disertai busa.

“Warnanya kadang merah, hitam, atau putih. Beberapa tahun lalu juga pernah sampai panas dan mengeluarkan seperti asap,” ujarnya.

0 Komentar