Soroti Kompleksitas Tata Kelola Kota Bandung, Pemuda ICMI Bangkitkan Kembali Nalar Kritis Melalui Forum Nalar

Soroti Kompleksitas Tata Kelola Kota Bandung, Pemuda ICMI Bangkitkan Kembali Nalar Kritis Melalui Forum Nalar
Akademisi FISIP-HI Universitas Pasundan Dr. Bedi Budiman bersama Ketua MPD Pemuda ICMI Kota Bandung Nina Fitriana dan Ketua MPW Pemuda ICMI Jawa Barat Jalu Priambodo berfoto bersama peserta Forum Nalar Muda di Kota Bandung. (Mong)
0 Komentar

“Bandung memiliki akar kultur intelektual dan sejarah pergerakan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kota ini menjadi tempat bertemunya berbagai paradigma pemikiran, seperti gagasan nasionalisme yang dibawa oleh figur Soekarno, diskursus keislaman melalui pemikiran Ahmad Hassan, hingga gerakan kebudayaan kesundaan oleh tokoh seperti Otto Iskandar Dinata. Interaksi dari berbagai gagasan ini memperkuat identitas Bandung sebagai kota pergerakan. Hal tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa pada tahun 1955, Presiden Soekarno memilih Kota Bandung sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika. Konferensi tersebut melahirkan Dasa Sila Bandung, sebuah kesepakatan yang menjadi inspirasi penting bagi banyak negara di dunia dalam perjuangan melawan kolonialisme,” terang Dr. Bedi menjelaskan.

Dalam sesi penyampaian materinya, Dr. Bedi membedah akar historis Kota Bandung yang sejak dekade 1920-an telah diproyeksikan sebagai “de stad der toekomst” atau kota masa depan.

Kota ini berkembang dari sebuah pusat kekuasaan kolonial yang elitis menjadiekosistem ruang publik yang melahirkan berbagai arus pemikiran, mulai dari gerakan kebudayaan Pasundan, nasionalisme, hingga gagasan Islam modernis.

Baca Juga:Koperasi Didorong Naik Kelas, Tak Sekadar Salurkan PinjamanIndonesia-Filipina Bidik Pasar Ekonomi Kreatif ASEAN Lewat Kolaborasi Talenta

Menghadapi kompleksitas tata kelola kota saat ini, Dr. Bedi menekankan bahwa warisan nalar kritis tersebut harus diterjemahkan ke dalam kerja-kerja pengawalan sistem politik yang konkret.

Mengutip kerangka gerakan sosial, ia menegaskan bahwa ruang partisipasi pemuda harus dikelola sedemikian rupa agar menjadi partisipasi yang bermakna, bukan sekadar pelengkap atau formalitas kehadiran belaka.

Pemuda harus memiliki otonomi, daya pengaruh yang terukur, serta kemampuan keberlanjutan dalam membangun organisasi kolektif, merumuskan klaim kebijakan, dan mengawal alokasi anggaran maupun kebijakan hingga ke tahap implementasi.

Melalui Forum Nalar Muda, Pemuda ICMI Kota Bandung berkomitmen untuk terus mencetak generasi cendekiawan yang tidak hanya tajam dalam analisis akademik, tetapi juga tangkas dalam mendorong perbaikan tata kelola dan pelayanan publik demi kemajuan Kota Bandung. (Mong)

0 Komentar