Menghentikan Aliran Risywah di Muktamar NU: Menjaga Hati Nurani, Marwah Jam’iyah, dan Masa Depan Organisasi

Muktamar NU
Ketua PCINU Jepang, Achmad Gazali, saat mengikuti Muktamar ke-35 NU, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026).
0 Komentar

Visi-misi, kapasitas, rekam jejak, dan masa depan NU tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Yang dihitung hanyalah: “Apa yang saya atau kelompok saya dapatkan?” Di sinilah risywah paling berbahaya. Ketika pilihan organisasi dapat dibeli, yang dijual bukan sekadar suara individu, melainkan mandat organisasi.

Lebih berbahaya lagi bila pilihan diarahkan sepenuhnya kepada pemberi fasilitas. Jika praktik ini menjadi budaya, Muktamar kehilangan makna musyawarah dan berubah menjadi arena transaksi kepentingan. Bila meluas, yang rusak bukan hanya satu Muktamar, tetapi kepercayaan terhadap jam’iyah.

5. Kelompok yang bermain banyak kaki

Kelompok ini paling mengkhawatirkan.

Mereka mendekati beberapa tim sukses sekaligus, menerima tawaran dari berbagai pihak, menjanjikan dukungan kepada lebih dari satu calon, lalu pada akhirnya tidak memenuhi janji kepada siapa pun.

Baca Juga:Pangdam Siliwangi Lepas Jambore Royal Enfield, Reborn Indonesia Diminta Jaga Kondusivitas JabarBNNP Jabar Tegaskan Rehabilitasi BNN Gratis

Praktik ini bukan hanya soal menerima risywah, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah serta rusaknya integritas pribadi dan organisasi. Secara moral, perilaku ini menggabungkan keserakahan, manipulasi, kebohongan, dan pengkhianatan.

Dalam hadis Nabi SAW terdapat peringatan keras mengenai tanda-tanda kemunafikan: ketika berbicara berdusta, ketika berjanji mengingkari, dan ketika dipercaya berkhianat. Tanpa mudah memberi vonis “munafik” kepada individu tertentu, perilaku semacam ini jelas memiliki karakter kemunafikan yang wajib dijauhi oleh warga NU.

Risywah di Muktamar bukan sekadar pelanggaran etika. Ia adalah ancaman terhadap legitimasi keputusan tertinggi organisasi. Menjaga kebebasan hati nurani peserta adalah menjaga marwah jam’iyah dan masa depan NU itu sendiri. (*)

0 Komentar