JABAR EKSPRES – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), mantan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum menyuarakan harapan agar struktur kepengurusan NU ke depan tidak diisi kader partai politik yang masih aktif.
Sebagai bagian dari warga Nahdliyin, Uu menilai kepengurusan NU sebaiknya lebih banyak diisi para kiai dan ajengan yang tidak terlibat langsung dalam politik praktis. Menurutnya, keterlibatan politisi berpotensi membuat arah organisasi menjadi kurang independen.
“Harapan saya, NU sebagai organisasi Islam terbesar, kepengurusannya nanti harus bersih dari kader-kader partai politik. Kalau pendukung silakan, tapi tidak masuk struktur inti yang vital,” kata Uu di Bandung Barat, belum lama ini.
Baca Juga:Polres Tasikmalaya Ungkap Kasus Curanmor, 3 Tersangka DiamankanUdang Windu Jadi Andalan Ekspor Perikanan, Tembus Pasar Global
Uu mengaku tidak mempermasalahkan siapa pun yang nantinya terpilih dalam Muktamar NU ke-35. Namun, ia berharap figur yang dipercaya memimpin NU tidak sedang aktif sebagai kader maupun pengurus partai politik.
“Sebagai warga Nahdliyin di tingkat bawah, banyak yang punya unek-unek. Keluarkan para politisi yang ada di NU. Harus murni para kiai, para ajengan yang tidak terkontaminasi dunia perpolitikan,” ujarnya.
Selain persoalan politik, Uu juga menyoroti keterlibatan NU dalam pengelolaan konsesi pertambangan. Ia mengaku kurang sependapat jika organisasi keagamaan tersebut terlalu jauh masuk dalam pengelolaan sumber daya ekonomi.
“Terus terang saya tidak setuju NU dapat konsesi tambang. Sebagai Nahdliyin paling bawah, konsesi tambang diberikan kepada NU, ya pi paseaeun (jadi rebutan),” katanya.
Menurut Uu, keterlibatan dalam pengelolaan sumber daya ekonomi dikhawatirkan mengubah orientasi organisasi. Ia khawatir jabatan dalam kepengurusan NU nantinya justru diperebutkan karena adanya kepentingan ekonomi.
“Jadi nanti ada kecemburuan. Semua pengen jadi pengurus NU karena ada duitnya. Semua pengen jadi ketua untuk memiliki kewenangan mengurus duit,” ujarnya.
Uu menilai NU sebaiknya kembali memprioritaskan kebutuhan dan aspirasi warga Nahdliyin melalui program-program keumatan. Ia juga berharap organisasi tersebut tidak terlalu masuk ke ranah bisnis dan pengelolaan sumber daya ekonomi.
Baca Juga:Dispertan Garut Dorong Pengembangan Stroberi dan Bawang Putih sebagai Komoditas AlternatifTransportasi Jateng Berbenah: Dari Taksi Listrik Hingga Layanan Pembayaran NontunaiÂ
“Sudah sajalah, apa yang diinginkan oleh umat Nahdliyin itu yang jadi program NU. Jadi saya kurang sepakat NU masuk kepada ranah-ranah muamalah,” tuturnya.
