Bandung Makin Panas, Suhu Permukaan Naik dan Tata Kota Jadi Sorotan

Foto ilustrasi suhu bandung terasa lebih panas daripada biasanya. (Jabarekspres)
Foto ilustrasi suhu bandung terasa lebih panas daripada biasanya. (Jabarekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kota Bandung yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan udara sejuk kini menghadapi tantangan perubahan suhu. Fenomena panas perkotaan semakin menjadi perhatian seiring meningkatnya kawasan terbangun, kepadatan aktivitas dan tekanan terhadap ruang terbuka hijau (RTH).

Data penelitian menunjukkan suhu permukaan lahan di Bandung mengalami kecenderungan meningkat dalam dua dekade terakhir. Salah satu kajian terkait Urban Heat Island (UHI) di Bandung menunjukkan perkembangan kawasan terbangun berpengaruh terhadap peningkatan suhu permukaan.

Fenomena UHI sendiri terjadi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi akibat dominasi bangunan, beton dan aspal yang menyerap serta menyimpan panas.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Usulkan Rp400 Miliar untuk Menuntaskan SOR MangunrejaFathir Hadiyyan Faturrohman, Siswa SDN 5 Manonjaya Raih Juara 3 Senam Artistik O2SN Tingkat Nasional

Kondisi tersebut semakin relevan dengan perkembangan kawasan perkotaan Bandung dan wilayah Cekungan Bandung yang terus mengalami perubahan tutupan lahan.

Pengamat tata kota Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Yudi Asep, menilai persoalan suhu panas di Bandung tidak bisa hanya dikaitkan dengan perubahan iklim global.

Menurutnya, perubahan wajah kota akibat pembangunan yang semakin padat juga menjadi faktor yang memperkuat fenomena urban heat island.

“Bandung ini semakin padat. Permukaan yang tertutup beton dan aspal semakin banyak, sementara ruang hijau yang berfungsi sebagai pendingin alami kota masih terbatas. Ini yang kemudian memperkuat fenomena urban heat island,” ujar Yudi, kepada Jabarekspres Minggu (23/8).

Yudi mengatakan, pemerintah daerah perlu melihat persoalan suhu panas sebagai bagian dari persoalan tata ruang, bukan sekadar fenomena cuaca.

Menurut dia, RTH memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih besar daripada sekadar mempercantik wajah kota.

“RTH bukan hanya soal mempercantik kota. RTH itu memiliki fungsi ekologis, menyerap air, menurunkan suhu dan memperbaiki kualitas udara. Kalau ruang hijau terus tertekan oleh pembangunan, maka panas di perkotaan akan semakin sulit dikendalikan,” katanya.

Baca Juga:Polres Tasikmalaya dan Pokja Jurnalis Perkuat Kemitraan, Bersama Jaga KamtibmasPoliteknik Al Islam Bandung Gelar Webinar Nasional: Solusi Atasi 'Brainrot' Siswa dan 'Burnout' Guru BK

Data Pemerintah Kota Bandung menunjukkan luas RTH publik hingga 2024 mencapai 1.143,34 hektare atau sekitar 6,83 persen dari total wilayah Kota Bandung seluas 16.729,65 hektare.

Angka tersebut telah melampaui target tahunan 2024 sebesar 6,78 persen, tetapi masih menunjukkan bahwa ruang hijau publik hanya mencakup sebagian kecil dari wilayah kota.

0 Komentar