Bandung Makin Panas, Suhu Permukaan Naik dan Tata Kota Jadi Sorotan

Foto ilustrasi suhu bandung terasa lebih panas daripada biasanya. (Jabarekspres)
Foto ilustrasi suhu bandung terasa lebih panas daripada biasanya. (Jabarekspres)
0 Komentar

Pemkot Bandung sendiri terus melakukan penambahan RTH melalui berbagai program, termasuk serah terima prasarana, sarana dan utilitas perumahan, pembangunan taman RW serta pengadaan lahan untuk taman dan RTH.

Namun, menurut Yudi, penambahan RTH harus diikuti dengan kebijakan yang lebih kuat untuk mempertahankan ruang hijau yang sudah ada.

“Jangan sampai kita menyelesaikan persoalan panas dengan menambah pendingin di dalam gedung, tetapi di luar gedung kotanya semakin panas. Yang harus dibenahi adalah desain kotanya,” tegasnya.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Usulkan Rp400 Miliar untuk Menuntaskan SOR MangunrejaFathir Hadiyyan Faturrohman, Siswa SDN 5 Manonjaya Raih Juara 3 Senam Artistik O2SN Tingkat Nasional

Ia menilai kebijakan pembangunan kota perlu memperhitungkan dampak termal dari setiap perubahan penggunaan lahan.

Artinya, pembangunan gedung, kawasan komersial, jalan maupun infrastruktur lainnya harus tetap memperhatikan keberadaan pohon, kawasan resapan dan koridor hijau.

Yudi juga meminta Pemkot Bandung memperkuat perlindungan terhadap pohon-pohon eksisting. Sebab, menurutnya, menanam pohon baru tidak serta-merta menggantikan fungsi ekologis pohon yang telah berusia puluhan tahun.

“Bandung harus mulai melihat pohon dan ruang hijau sebagai infrastruktur kota, sama pentingnya dengan jalan dan bangunan. Kalau infrastruktur hijaunya lemah, maka kota akan semakin rentan terhadap panas,” ujarnya.

Kenaikan suhu Bandung juga tidak bisa dilepaskan dari tren pemanasan yang terjadi secara global maupun nasional.

BMKG mencatat suhu rata-rata Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 27,05 derajat Celsius, lebih tinggi dibandingkan normal klimatologis periode 1991-2020 yang berada di kisaran 26,7 derajat Celsius.

Di tingkat perkotaan, dampak perubahan iklim tersebut dapat semakin terasa ketika kawasan memiliki banyak permukaan kedap air seperti aspal, beton dan bangunan.

Baca Juga:Polres Tasikmalaya dan Pokja Jurnalis Perkuat Kemitraan, Bersama Jaga KamtibmasPoliteknik Al Islam Bandung Gelar Webinar Nasional: Solusi Atasi 'Brainrot' Siswa dan 'Burnout' Guru BK

Kajian mengenai perubahan tutupan lahan juga menunjukkan bahwa berkurangnya vegetasi dan bertambahnya kawasan terbangun dapat berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan.

Karena itu, Yudi menilai Pemkot Bandung harus mulai memasukkan indikator suhu perkotaan dalam evaluasi pembangunan.

“Kalau suhu terus meningkat, dampaknya bukan hanya warga merasa gerah. Konsumsi energi meningkat, kebutuhan pendinginan meningkat, kualitas lingkungan menurun dan pada akhirnya kualitas hidup masyarakat ikut terdampak,” katanya.

0 Komentar