BANDUNG – Limbah tandan kosong kelapa sawit yang selama ini sering dibuang atau dibakar terbuka kini diolah menjadi briket pupuk organik. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan teknologi itu kepada warga Desa Cicareuh, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi.
Kegiatan bertajuk “Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit menjadi Briket Pupuk Organik untuk Rekayasa Lahan Marjinal di Kawasan Gunung Halimun, Kabupaten Sukabumi” berlangsung April–Desember 2026. Mitra utama adalah Kelompok Tani Pasir Sarongge. Program ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisainstek) melalui Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM), didukung Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Pemerintah Desa Cicareuh, BPP Kecamatan Cikidang, serta kelompok tani setempat.
Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai
Wilayah sekitar Desa Cicareuh menghasilkan biomassa cukup besar dari perkebunan kelapa sawit. Tandan kosong dan residu organik lain belum dimanfaatkan optimal. Pembuangan atau pembakaran terbuka berpotensi mencemari lingkungan.
Baca Juga:Kuasa Hukum Ade Kunang Siapkan Duplik, Tegaskan Uang Sarjan Sudah Dicicil Rp1 MiliarASUS Tegaskan ExpertBook Ultra sebagai The Flagship of the Industry. Period.
Di sisi lain, 17 anggota Kelompok Tani Pasir Sarongge masih bergantung pada pupuk organik dari luar desa. Kondisi itu menaikkan biaya produksi, menambah risiko keterlambatan pasokan, dan mengurangi kemandirian petani.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim ITB mengembangkan pemanfaatan limbah sawit menjadi briket pupuk organik. Produk ini lebih mudah disimpan, didistribusikan, dan diaplikasikan di lahan. “Kegiatan PKM ini mengonversi limbah kelapa sawit menjadi briket pupuk organik sebagai solusi berbasis sumber daya lokal. Tujuannya memperbaiki kualitas lahan marjinal, menurunkan tekanan ekologis di kawasan konservasi, serta meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat penyangga Gunung Halimun,” kata Ketua Tim Ir. Pathmi Noerhatini, M.Si., IPP.
Tim terdiri atas Pathmi Noerhatini (ketua), Dr. Taufikurahman, Amanna Dzikrillah L.L. Al Hakim, MAB, serta mahasiswa Fauzan Pratama dan Wildan Febryan.
Pelatihan Produksi hingga Manajemen Usaha
Pelatihan digelar 7–8 Agustus 2026. Pada hari pertama, peserta mempelajari pengolahan tandan kosong: pengeringan awal, pencacahan, formulasi campuran, pencetakan briket, pengeringan akhir, hingga penyimpanan. Metode learning by doing diterapkan agar warga langsung mempraktikkan prosesnya.
Hari kedua fokus pada manajemen usaha. Materi mencakup pembagian peran dalam kelompok, pencatatan biaya produksi, perencanaan produksi, dan pengelolaan bahan baku secara terstruktur.
