Presiden Usulkan Calon Tunggal Gubernur BI, Langkah Tepat atau…

Presiden Usulkan Calon Tunggal Gubernur BI, Langkah Tepat atau...
Ilustrasi gedung Bank Indonesia. Dok. Pexels
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kekosongan kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) masih menjadi sorotan publik. Kali ini, Presiden Prabowo Subianto dikabarkan telah mengajukan calon tunggal untuk mengisi kekosongan jabatan itu.

Presiden mengajukan nama Destry Damayanti, yang saat ini menjabat sebagai Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur BI, untuk menjadi Gubernur BI secara definitif. Melalui Surat Presiden (Surpres) ke DPR RI.

Surpres itu diserahkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi ke Ketua DPR RI Puan Maharani dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad pada Senin (10/8).

Baca Juga:Sistem BI Bakal Tetap Solid di Bawah Gubernur Baru, Benarkah?Perry Buka Ruang Pemangkasan BI-Rate Meski Turun Berkali-kali: Ada Dua Pertimbangan

“Namanya tunggal ya, satu nama, yaitu atas nama Ibu Destry Damayanti. Yang sekarang beliau menjabat sebagai penjabat gubernur sementara. Besok secara resmi pimpinan DPR pasti akan menyampaikan kepada teman-teman,” ujarnya, dikutip Selasa (11/8/2026).

Di sisi lain, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, keputusan Presiden mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI merupakan langkah tepat.

Menurutnya, hal itu tepat dilakukan sekaligus menjaga kesinambungan kebijakan moneter, mengingat Destry merupakan salah satu teknokrat moneter Tanah Air.

Dengan pengalaman komprehensif di akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga bank sentral, ia meyakini Destry dapat membawa BI ke arah yang lebih baik.

“Kombinasi pengalaman seperti ini sangat penting ketika tantangan bank sentral semakin kompleks,” kata dia.

Ia menyadari bahwa saat ini tantangan BI lebih besar dengan segala kemajuan teknologi, AI, digitalisasi, fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, transisi energi, perubahan demografi hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik mulai mengubah cara perekonomian bekerja.

Dengan begitu, peran BI lebih dari sekadar menjaga inflasi dan penyesuaian suku bunga. Bi juga harus mampu membaca perubahan jangka panjang.

Baca Juga:Thomas Djiwandono Tak Punya Pengalaman Moneter tapi Dilantik Jadi Deputi Gubernur BI, Kok Bisa?Benarkan Pengunduran Diri Juda Agung sebagai Deputi Gubernur, BI Sudah Siapkan Rekomendasi Pengganti?

“Perubahan yang sedang terjadi bukan sekadar perubahan siklus ekonomi, tetapi perubahan struktur ekonomi dunia. Karena itu, bank sentral harus mampu membaca perubahan jangka panjang, bukan hanya mengelola fluktuasi jangka pendek,” paparnya.

Fakhrul menilai setelah fase stabilisasi berhasil menjaga kredibilitas kebijakan dan stabilitas nilai tukar, tantangan berikutnya adalah memastikan stabilitas tersebut diterjemahkan menjadi likuiditas yang lebih sehat serta transmisi kebijakan yang makin efektif.

0 Komentar