“Dampaknya ikan banyak yang habis. Sekarang yang masih bertahan paling ikan gabus,” katanya.
Kondisi air sungai juga membuat Didin tidak berani menggunakannya untuk mengairi tanaman palawija. Ia khawatir air yang tercemar justru merusak tanaman sebelum memasuki masa panen.
“Saya tidak berani menggunakan air sungai ini untuk menyiram tanaman palawija. Kalau kena daunnya, tanaman bisa langsung layu,” ujarnya.
Baca Juga:Sembilan Tahun Berkembang, Tesavara Beranjak dari Gaya Remaja ke Fashion yang Lebih DewasaBukan Sekadar Bantuan, Program SUJUD Polres Tasikmalaya Dorong Pesantren Jadi Basis Ketahanan Pangan
Keluhan serupa disampaikan Ajo (40), warga lainnya. Ia memilih mengambil air dari bagian hulu yang lokasinya cukup jauh dari saluran pembuangan untuk mengairi tanaman palawijanya.
Menurut Ajo, langkah tersebut terpaksa dilakukan untuk mengurangi risiko tanaman terdampak pencemaran. Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata terhadap dugaan pencemaran yang dinilai telah merugikan warga.
“Sungai yang tercemar jelas merugikan petani dan nelayan. Ikan juga semakin sulit didapat,” kata Ajo.
Ajo mengaku sekitar setahun lalu pernah menyaksikan ikan mati secara massal di Sungai Cihaur. Namun, menurutnya, kejadian serupa kini jarang terlihat karena populasi ikan di sungai tersebut sudah semakin sedikit.
“Sekitar setahun lalu saya pernah melihat ikan mati massal di sini. Sampai bisa terkumpul satu karung. Sekarang sudah tidak ada lagi, mungkin karena ikannya memang sudah habis,” pungkasnya. (Wit)
