JABAR EKSPRES – Musim kemarau mulai meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bandung.
Pemerintah mengimbau masyarakat menghentikan kebiasaan membakar sampah maupun lahan karena berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mencatat sebanyak 19 kejadian kebakaran lahan terjadi selama periode 1-20 Juli 2026.
Baca Juga:Pengamen Diduga Buang Puntung Rokok Menyala, Lahan dan Pohon Randu di Bogor Tengah Terbakar Dalam Sehari, Tiga Kebakaran Lahan Terjadi di Tiga Kecamatan Bandung Barat
Jumlah tersebut belum termasuk kebakaran semak belukar di Cileunyi yang merembet ke gudang penyimpanan besi pada 26 Juli 2026 serta kebakaran di Bukit Paseban, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, sehari setelahnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung Diki Sudrajat mengatakan, sebagian besar kejadian kebakaran lahan yang terjadi pada periode tersebut diduga dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah.
“Data sementara selama 1 sampai 20 Juli ada 19 kejadian kebakaran lahan. Sebagian di antaranya dipicu oleh aktivitas membakar sampah,” ujar Diki, Kamis (30/7/2026).
Menurut Diki, beberapa kejadian yang diduga bermula dari pembakaran sampah antara lain kebakaran kebun bambu di Kampung Cikalage, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cikancung pada 3 Juli 2026 dan kebakaran lahan semak di Kampung Sepen, Kelurahan Baleendah pada 8 Juli 2026.
Ia menilai frekuensi kebakaran lahan selama Juli tergolong tinggi. Bahkan, dalam beberapa kesempatan kebakaran terjadi di lebih dari satu lokasi pada hari yang sama.
Karena itu, Diki mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan tidak melakukan pembakaran terbuka.
“Membakar sampah atau lahan secara sembarangan sangat berisiko menimbulkan kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Baca Juga:Dipicu Pembakaran Sampah, Damkar Cimahi Padamkan Kebakaran Lahan Seluas 2.000 Meter Persegi di CiteureupGubug dan Lahan Kosong di Tanah Sareal Bogor Terbakar, Diduga karena Bakar Sampah
Terkait kebakaran di Bukit Paseban, Diki mengatakan penyebab pastinya masih belum dapat dipastikan. Meski demikian, berdasarkan dugaan sementara, api kemungkinan berasal dari aktivitas pembakaran sampah yang kemudian merambat ke area perbukitan.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat Rakhmat Prasetia mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau.
Selain meningkatkan potensi munculnya titik panas (hot spot) yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, musim kemarau juga berpotensi menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih serta kekeringan di sektor pertanian.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak, menjaga kesehatan dari paparan debu dan suhu panas, serta menghindari pembakaran sampah maupun lahan.
