JABAR EKSPRES – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy memberikan klarifikasi resmi terkait isu yang menyebut proyek rehabilitasi Daerah Irigasi (D.I.) Cikunten II sebagai penyebab utama berkurangnya pasokan air pertanian di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
Narasi yang berkembang di masyarakat tersebut dinilai tidak komprehensif dan berpotensi mengaburkan tujuan strategis proyek nasional ini.
Kepala BBWS Citanduy, Roy Panagom Pardede, menyatakan bahwa penurunan debit air yang terjadi saat ini merupakan dampak akumulatif dari dua faktor utama, yakni musim kemarau dan kebutuhan teknis pengeringan berkala untuk mempercepat rekonstruksi beton dinding saluran.
Baca Juga:Dipulangkan karena Kenakalan, 8 Siswa SMP di Tasikmalaya Menolak Pindah SekolahPemkab Tasikmalaya Siap Dukung Sekolah Alam Hayati, DPUTRLH Buka Peluang Kolaborasi hingga Pendanaan
Langkah pengeringan ini justru diambil demi menyelamatkan masa depan pertanian di wilayah Tasikmalaya yang selama bertahun-tahun mengalami kebocoran dan pendangkalan saluran irigasi.
“Kami mengetuk hati seluruh elemen masyarakat untuk melihat proyek ini dengan kacamata masa depan. Ini adalah perjuangan jangka pendek demi kenyamanan air jangka panjang. Jika saluran ini tidak diperbaiki sekarang, risiko minimnya air untuk pertanian di masa depan justru akan jauh lebih mengerikan,” ujar perwakilan BBWS Citanduy dalam keterangan resminya yang diterima Jabar Ekspres, Jumat (17/7/2026)
BBWS Citanduy meluruskan sejumlah informasi yang dinilai diputarbalikkan di media sosial. Pertama, terkait sistem pengaliran air. BBWS menegaskan tidak pernah menutup aliran air secara permanen.
Bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan tokoh masyarakat, telah disepakati sistem rotasi atau pola gilir pengaliran air. Jadwal penutupan dilakukan secara terukur agar kontraktor dapat memperkokoh struktur dinding saluran utama, sementara pasokan ke hilir tetap diberikan haknya secara bergantian.
Kedua, faktor penurunan debit air secara alami. Berdasarkan data hidrologi, Sungai Ciwulan dan Sungai Cimerah memang mengalami penyusutan debit akibat minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir.
Menuding proyek konstruksi sebagai penyebab utama kekeringan dinilai sebagai kekeliruan logika, karena tanpa adanya proyek pun, debit air alamiah tetap mengalami penyusutan.
Ketiga, maraknya pengambilan air secara ilegal atau oncoran di sepanjang saluran irigasi turut memicu berkurangnya pasokan di beberapa titik hilir. Proyek rehabilitasi ini justru hadir untuk menata kembali sistem distribusi agar aliran air dapat terdistribusi secara adil dan merata hingga ke ujung hilir.
