“Dedikasinya di MIN 1 Kota Banjar menjadi teladan bahwa nilai seorang guru diukur dari ketulusan hatinya, bukan sempurnanya indra penglihatan,” kata A. Fikri.
Ia berharap, perjuangan dari guru yang memiliki keterbatasa ini dapat menginspirasi banyak pihak, terutama para pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, bahwa dedikasi dan semangat mengajar tidak pernah terbatas oleh kondisi fisik apa pun. (CEP)
