Dolar Tembus Rp18.000, Pengrajin Tempe di Kabupaten Bandung Tertekan Daya Beli dan Kenaikan Bahan Baku

Pengrajin tempe di Kampung Mekarsari, RT 03 RW 21, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung
Pengrajin tempe di Kampung Mekarsari, RT 03 RW 21, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa (9/6//2026). Foto Agni Ilman Darmawan
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS mulai dirasakan para pengrajin tempe di Kabupaten Bandung.

Selain menghadapi kenaikan harga kedelai impor, pelaku usaha juga mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat yang berdampak pada penurunan produksi.

Ketua Koperasi Pengrajin Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kabupaten Bandung, Ghufron, mengatakan kondisi saat ini cukup menantang bagi para pelaku usaha tempe dan tahu.

Baca Juga:Bocah 9 Tahun Tewas Diserang 4 Anjing Pemburu di Jasinga Bogor, Ayah Ungkap Luka Parah KorbanOperasi Patuh Lodaya 2026 Ditunda, Polisi : Bukan Berarti Boleh Abaikan Aturan Lalu Lintas!

Menurutnya, gejolak nilai tukar dolar memberikan efek berantai terhadap harga bahan baku dan kemampuan belanja masyarakat.

“Kalau kondisi penjualan sebenarnya daya beli masyarakat memang sedang turun di tengah gejolak kurs dolar hari ini. Terakhir-terakhir ini kurs dolar lumayan sampai Rp18.000, bahkan lebih sedikit. Nah, ini yang menjadikan daya beli masyarakat menurun,” kata Ghufron saat ditemui di Kampung Mekarsari, RT 03 RW 21, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa (9/6//2026).

Ia menjelaskan, meskipun kondisi saat ini tidak separah krisis 1998, dampaknya tetap dirasakan oleh para pengrajin. Penurunan daya beli masyarakat berbanding lurus dengan turunnya jumlah produksi.

Ghufron menyebut produksi tempe di sejumlah sentra usaha mengalami penyesuaian karena permintaan pasar tidak sekuat sebelumnya.

“Kalau produksi pasti menurun karena berbanding lurus dengan daya beli masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, harga kedelai yang menjadi bahan baku utama terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Ghufron mengungkapkan harga kedelai naik secara bertahap sekitar Rp200 hingga Rp300 per kilogram setiap pekan.

Saat ini harga kedelai di tingkat pengguna telah mencapai sekitar Rp11.000 per kilogram. Padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp9.500 per kilogram.

Baca Juga:Operasi Patuh Lodaya 2026 Ditunda, Polisi : Bukan Berarti Boleh Abaikan Aturan Lalu Lintas!Pemkab Tasikmalaya Jajaki Kerjasama dengan Kementerian Perkuat Pengelolaan Sampah

Menurut Ghufron, kenaikan tersebut merupakan akumulasi yang terjadi selama beberapa bulan, bukan lonjakan harga yang terjadi sekaligus.

“Yang tadinya dari Rp9.000 sampai Rp9.500, hari ini menjadi Rp11.000. Itu kenaikan yang akumulatif, bukan kenaikan yang serentak,” katanya.

Ia menambahkan seluruh kebutuhan kedelai pengrajin tempe dan tahu masih bergantung pada pasokan impor dari Amerika Serikat. Kondisi ini membuat harga sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs dolar.

0 Komentar