Meski demikian, Ghufron menegaskan hingga saat ini belum ada pengrajin tempe maupun tahu di Kabupaten Bandung yang gulung tikar akibat kondisi tersebut.
“Kalau di tahu tempe enggak ada yang bangkrut. Sampai hari ini semua masih bertahan,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan yang dihadapi pengrajin bukan hanya kenaikan harga kedelai. Sejumlah komponen produksi lain juga mengalami kenaikan cukup signifikan, mulai dari bahan bakar, garam hingga plastik kemasan.
Baca Juga:Bocah 9 Tahun Tewas Diserang 4 Anjing Pemburu di Jasinga Bogor, Ayah Ungkap Luka Parah KorbanOperasi Patuh Lodaya 2026 Ditunda, Polisi : Bukan Berarti Boleh Abaikan Aturan Lalu Lintas!
“Yang bikin pengrajin kerepotan bukan hanya kedelai. Plastik misalnya, kenaikan harganya sampai 80 persen. Itu juga menjadi faktor kesulitan pengrajin untuk meningkatkan produksi,” ungkapnya.
Berdasarkan data KOPTI Kabupaten Bandung, saat ini terdapat sekitar 620 pengrajin tahu dan tempe yang masih aktif berproduksi. Seluruhnya masih bertahan meski menghadapi tekanan biaya produksi dan penurunan daya beli masyarakat.
Untuk mencari solusi, Ghufron mengatakan pihaknya bersama KOPTI dan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) se-Indonesia baru saja mengikuti rapat daring bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Pangan Nasional, Bulog, Kementerian terkait, hingga Kantor Staf Presiden.
Dalam pertemuan tersebut, para pelaku usaha menyampaikan berbagai keluhan terkait kenaikan harga bahan baku dan kondisi pasar saat ini.
Ghufron mengatakan harapan utama para pengrajin sebenarnya sederhana, yakni adanya stabilitas harga kedelai dan jaminan ketersediaan stok.
“Sebetulnya kemauan para pengrajin tahu tempe itu sangat simpel. Hanya stabilitas harga dan jaminan stok. Kalau harga stabil dan ketersediaannya terjamin, itu sudah sangat membantu,” katanya.
Selain itu, Gakoptindo juga berharap pemerintah dapat memberikan stimulus bagi pengrajin di tengah gejolak ekonomi saat ini, baik dalam bentuk subsidi maupun kebijakan yang dapat menekan kenaikan harga bahan baku.
Baca Juga:Operasi Patuh Lodaya 2026 Ditunda, Polisi : Bukan Berarti Boleh Abaikan Aturan Lalu Lintas!Pemkab Tasikmalaya Jajaki Kerjasama dengan Kementerian Perkuat Pengelolaan Sampah
Ia mengungkapkan pemerintah melalui Bappenas telah mengeluarkan aturan yang membatasi importir agar tidak menaikkan harga kedelai secara semena-mena.
Menurutnya, harga kedelai sebenarnya berpotensi berada di atas Rp12.000 per kilogram jika tidak ada intervensi kebijakan tersebut.
Terkait strategi bertahan, Ghufron menjelaskan sebagian besar pengrajin tempe memilih tidak menaikkan harga jual kepada konsumen. Sebagai gantinya, ukuran produk dibuat lebih kecil untuk menyesuaikan biaya produksi.
