BBM Naik Dua Kali dalam Sebulan, Anggaran Pengangkutan Sampah di KBB Terancam Jebol

Truk pengangkut sampah dari wilayah Bandung Raya membuang muatannya di TPAS Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Band
Truk pengangkut sampah dari wilayah Bandung Raya membuang muatannya di TPAS Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Bandung Barat. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Anggaran pengangkutan sampah di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terancam jebol setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mengalami kenaikan.

Kenaikan tersebut membuat biaya operasional armada pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat diperkirakan habis lebih cepat dari perencanaan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bandung Barat, Ibrahim Adji, menyebut anggaran operasional tahun 2026 sejak awal memang tidak disiapkan untuk satu tahun penuh karena terdampak efisiensi.

Baca Juga:Rasakan Manfaat JKN, Ade Akui Tak Lagi Cemas Soal Biaya PengobatanAdu Banteng Xpander dan Scoopy di Puncak Bogor, Mahasiswa Luka-luka

“Awalnya anggaran operasional kami hanya disusun cukup sekitar delapan bulan. Setelah ada kenaikan harga BBM nonsubsidi, kemungkinan hanya cukup untuk enam sampai tujuh bulan,” kata Ibrahim saat dikonfirmasi, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, dari 40 armada pengangkut sampah yang dimiliki Pemkab Bandung Barat, tidak semuanya menggunakan BBM nonsubsidi. Sebagian armada lama masih memakai biosolar subsidi, sementara armada baru menggunakan Dexlite.

Jenis BBM Dexlite inilah yang mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Sebelum 18 April 2026, harga Dexlite Rp14.200 per liter, kemudian naik menjadi Rp23.600 per liter, dan kembali naik pada 4 Mei 2026 menjadi Rp26.000 per liter.

Sementara itu, harga biosolar subsidi tetap berada di angka Rp6.800 per liter. Selisih harga tersebut membuat biaya operasional armada baru meningkat cukup signifikan.

“Meskipun harga naik, kami pastikan pelayanan pengangkutan sampah kepada masyarakat masih berjalan normal,” katanya.

Ia menambahkan, jika anggaran habis lebih cepat, pihaknya akan mengusulkan tambahan anggaran melalui pos biaya tak terduga (BTT) agar pelayanan tetap berjalan.

“Kalau anggaran habis lebih cepat, kami akan mengajukan tambahan dari BTT. Namun itu harus melalui mekanisme dan penetapan kondisi darurat sampah,” ujarnya.

Baca Juga:JKN Jadi Penyelamat, Nining Aktifkan Kembali BPJS Demi Operasi SuamiJKN Hadirkan Harapan, Operasi Rahang Ubed Berjalan Lancar

Lebih lanjut, ia mengatakan pelayanan justru lebih berisiko terganggu jika terjadi kelangkaan BBM di SPBU mitra. Sebab, seluruh armada pengangkut sampah saat ini terikat kontrak pengisian di satu SPBU tertentu.

“Kalau pasokan BBM di SPBU mitra terganggu, tentu pelayanan pengangkutan ikut terdampak. Saat ini rata-rata sampah yang terangkut ke TPA Sarimukti mencapai 146,49 ton per hari atau sekitar 22,62 persen dari total produksi sampah harian sebesar 654,80 ton,” tandasnya. (Wit)

0 Komentar