JABAR EKSPRES – Sampah dari Pasar Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mengotori dan mencemari perairan Waduk Saguling.
Tumpukan sampah terlihat menggunung di pinggiran waduk, bahkan sebagian besar mengapung di permukaan air. Jenisnya beragam, mulai dari sampah organik sisa pasar, plastik, kertas, hingga limbah rumah tangga.
Campuran limbah tersebut mempercepat proses pembusukan dan menimbulkan bau menyengat. Selain mencemari air, kondisi ini juga merusak estetika lingkungan di sekitar waduk.
Baca Juga:Ciamis Terbersih se-Asean, Daerah Lain Berbondong-bondong Belajar Tata Kelola SampahKebun Raya Bogor Gelar Aksi Lingkungan Operasi Plastik, 1,2 Ton Sampah Berhasil Diangkat dari Sungai Ciliwung
“Banyak sampah sisa pasar seperti buah-buahan dan kayu yang mengapung. Ini bukan sekadar terbawa hujan, tapi seperti dibuang langsung ke waduk,” ujar Pian, warga Cililin saat dihubungi, Senin (27/4/2026).
Warga menduga sampah tidak hanya terbawa arus air, melainkan sengaja dibuang ke arah waduk. Pola penumpukan yang terus berulang dinilai tidak wajar jika hanya disebabkan faktor alam.
Menurutnya, keberadaan pengelola pasar serta adanya pungutan retribusi sampah seharusnya mampu mencegah kondisi tersebut. Namun hingga kini, penanganan dinilai belum maksimal.
“Seharusnya pengelola pasar bertanggung jawab. Ini sampah malah meluber ke perairan Waduk Saguling,” katanya.
Ia menegaskan, persoalan ini bukan hanya soal kebersihan, melainkan menyangkut buruknya pengelolaan lingkungan. Warga pun mendesak adanya evaluasi dari pihak terkait.
Dampak pencemaran semakin terasa. Air waduk berubah keruh dan mengeluarkan bau busuk, terutama saat cuaca panas.
“Kondisi ini membuat warga tidak lagi bisa memanfaatkan air waduk untuk kebutuhan sehari-hari, padahal sebelumnya masih digunakan untuk keperluan non-konsumsi,” katanya.
Baca Juga:Sampah Menumpuk di Melong Cimahi, DLH Sebut Kuota Buang ke Sarimukti Cepat PenuhSampah Berserakan di Trotoar Jalan Pedati Dikeluhkan, Begini Respons DLH Kota Bogor
Selain itu, penumpukan sampah juga memicu pendangkalan waduk. Material sampah yang membusuk bercampur lumpur perlahan mengendap di dasar, sehingga mengurangi kapasitas tampungan air.
Pian mengaku sudah terganggu dalam beberapa bulan terakhir. Bau tak sedap kerap tercium, terutama saat hujan deras yang membuat sampah semakin meluas ke area genangan.
“Dulu air waduk ini masih bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, sekarang sudah keruh, bau, dan jadi sarang nyamuk. Kami khawatir nanti muncul penyakit,” pungkas Pian. (Wit)
