Warga setempat sebenarnya sudah beberapa kali inisiatif menimbun lubang dengan batu dan tanah secara swadaya. Namun, material tersebut cepat hanyut ketika hujan turun. Upaya darurat itu tidak pernah bertahan lama karena volume kendaraan yang melintas cukup tinggi, terutama kendaraan pengangkut hasil bumi.
Jalan itu juga menjadi jalur alternatif bagi warga dari beberapa desa sekitarnya. Jika jalan tidak segera diperbaiki, warga khawatir akses ekonomi mereka semakin terhambat.
“Hasil pertanian seperti padi, palawija, dan komoditas lokal lainnya membutuhkan jalan yang layak untuk diangkut ke pusat penjualan,” katanya. (CEP)
