Menurutnya, pemerintah sebelumnya telah melakukan penanganan darurat. Namun, bendungan kembali jebol akibat tekanan debit air yang tinggi.
“Kami bersama pemerintah desa sudah mengajukan permohonan ke pemerintah kabupaten dan provinsi. Harapannya ada penanganan lebih lanjut yang sifatnya permanen,” pungkas Haris. (Wit)
