Tangan-Tangan yang Pernah Kuat, Kini Digenggam Kembali

Menwa
Komandan Menwa Mahawarman Jabar saat memberikan arahan di Markas Mahawarman, Jalan Surapati, Selasa (17/3/2026).
0 Komentar

BANDUNG – Tangannya bergetar saat menerima bingkisan itu. Usianya sudah tak muda lagi. Langkahnya pun tertatih. Namun sorot matanya berubah hangat ketika melihat deretan anak-anak muda berseragam loreng khas Menwa berdiri menyambutnya di Markas Mahawarman, Jalan Surapati, Selasa (17/3/2026).

Ia bukan tamu. Ia bagian dari sejarah. Di tengah riuhnya arus mudik dan hiruk pikuk kota, Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat memilih berhenti sejenak—untuk menoleh ke belakang. Untuk mereka yang dulu pernah berdiri paling depan, tapi kini perlahan dilupakan zaman.

Hari itu, bukan sekadar pembagian bantuan sosial. Ini tentang pertemuan. Tentang mengingat nama, wajah, dan jasa yang mungkin sudah lama tak disebut.

Baca Juga:Dewan Soroti Potensi Kebocoran PAD Bandung: Target Rp3,6 T Dinilai Terlalu KecilIneu Purwadewi Sundari Lakukan Pengawasan di Jatinangor Sumedang, Bagikan Sembako ke Warga

Komandan Menwa Mahawarman Jabar, Ali Budiman-alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) berjalan menyapa satu per satu para sesepuh. Ia menunduk, menyalami, sesekali berbincang singkat. Tidak ada jarak komandan dan anggota. Yang ada hanya rasa hormat.

“Dulu mereka yang menguatkan organisasi ini. Sekarang giliran kami yang menggenggam mereka,” ucapnya.

Di antara para penerima bantuan, ada warakawuri—istri anggota yang telah lama berpulang. Mereka datang membawa cerita, juga kenangan yang tak selalu mudah. Ada yang hidup sendiri, ada yang bertahan dengan kondisi seadanya.

Rencana awal panitia sebenarnya sederhana: mengantar bantuan langsung ke rumah masing-masing. Tapi situasi mudik dan keterbatasan personel membuat semuanya dipusatkan di markas. Tak disangka, keputusan itu justru membuka ruang yang lebih dalam—ruang temu yang lama hilang.

Seorang sesepuh terlihat tertawa kecil saat mengenang masa mudanya. Di depannya, anggota muda mendengarkan dengan penuh perhatian, seolah sedang membaca buku sejarah yang hidup.

Tak banyak yang tahu, Mahawarman bukan sekadar organisasi kampus. Ia lahir dari rahim perjuangan. Dari Tentara Pelajar Indonesia, dari masa ketika mahasiswa tak hanya belajar di kelas, tapi juga memanggul tanggung jawab negara.

Pada 1964, organisasi ini resmi dibentuk di tengah panasnya konfrontasi Dwikora. Markas di Jalan Surapati bahkan pernah menjadi saksi ketegangan saat peristiwa G30S/PKI. Dari sana, generasi demi generasi lahir—hingga kini jumlah alumninya diperkirakan mencapai ribuan.

0 Komentar