JABAR EKSPRES – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat nyaris menyentuh Rp17 ribu per dolar AS. Kondisi ini membuat masyarakat semakin khawatir dengan perekonomian nasional.
Merespons itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimis bahwa fondasi ekomoni nasional tetap kuat. Itu disampaikan olehnya saat memenuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.
“Enggak ah, masih Rp16.800-an. Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih gampang dibanding kalau ekonomi lagi berantakan,” ujarnya, dikutip Rabu (11/3/2026).
Baca Juga:Harga BBM Subsidi Tak Naik Sampai Idulfitri, Bahlil: Jangan "Panic Buying"Harga BBM Subsidi Tak Naik Meski Minyak Dunia Meroket, Benarkah?
Menurutnya, stabilitas nilai rupiah sangat dipengaruhi oleh kesehatan ekonomi domestik, serta koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter.
Untuk itu, kata dia, pihaknya tengah memprioritaskan agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan likuiditas dalam sistem keuangan cukup, sehingga rupiah dapat menguat.
“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi bagus, uang di sistem cukup, dan BI mungkin monitor keadaan nilai tukar seperti apa. Jadi kerja sama yang enak antara pemerintah dengan BI perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” paparnya.
Selain itu, ia juga menilai koordinasi yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia akan memudahkan upaya meredam gejolak pasar dunia yang berdampak pada pergerakan rupiah.
“Kalau kompak seperti ini, enggak terlalu sulit mengendalikan gejolak pasar dunia,” ujarnya.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak menguat 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.851 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.863 per dolar AS.
Sebelumnya, Menkeu juga menanggapi rupiah yang menyentuh Rp17.090 per dolar AS pada Senin (9/3) pukul 9.30 WIB. Dan IHSG juga ditutup melemah di level 7.337 pada akhir perdagangan Senin.
Baca Juga:Soal Pemangkasan Anggaran MBG, Ini Kata Menkeu!Anggaran MBG Berpotensi Dipangkas, Imbas Perang Iran vs Israel-AS?
Indeks saham turun 248,31 poin atau anjlok sekitar 3,27 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Menurutnya, hal itu dipicu pernyataan sejumlah ekonom terkait kondisi ekonomi Indonesia. Yang menyebut Indonesia sedang menuju resesi dan daya beli masyarakat melemah.
“Rupiah Rp17 ribu, IHSG anjlok, karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi menuju 1998 lagi gitu lah, daya beli sudah hancur,” katanya di Jakarta Pusat, Senin (9/3).
