Aktivitas Tak Sesuai Fungsi Konservasi di TWA Cimanggu Terdeteksi, Bandung Selatan Kian Mengkhawatirkan

Aktivitas Tak Sesuai Fungsi Konservasi di TWA Cimanggu Terdeteksi, Bandung Selatan Kian Mengkhawatirkan
Ilustrasi: Suasana panorama alam Bandung Selatan. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) menilai jika lokasi wisata wilayah di Kabupaten Bandung bagian selatan, kondisinya semakin mengkhawatirkan.

Ketua FK3I Pusat, Dedi Kurniawan mengatakan, aktivitas Taman Wisata Alam (TWA) Cimanggu yang merupakan kawasan konservasi serta blok rehabilitasi TWA Cimanggu, sudah sangat mengkhawatirkan.

“Kementerian Kehutanan seakan jadi Kementerian BUMN dan Pertanian,” katanya kepada Jabar Ekspres melalui seluler, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga:Hentikan Pungli! Disparekraf Kabupaten Bandung Tekankan Pentingnya Hospitality di Kawasan WisataPerketat Kawasan Wisata, Bupati Bandung Barat akan Tindak Tegas Oknum Getok Harga Parkir di Lembang 

Dedi menerangkan, dari hasil pemantauan pihaknya terlihat, mulai ada aktivitas lain. Selain itu, di area blok rehabilitasi juga ditemukan penanaman tanaman komoditas seperti stroberi yang dinilai tidak sesuai dengan fungsi konservasi.

“Kawasan blok rehabilitasi seharusnya difokuskan untuk pemulihan ekosistem, bukan ditanami komoditas pertanian seperti stroberi. Ini menimbulkan pertanyaan besar soal arah kebijakan pengelolaan,” terangnya.

“Wisata Cimanggu yang sekarang mulai aktif lagi semenjak tahun baru pun, kami lihat sedang dilakukan renovasi secara masif, terbangun kawasan beton komersil,” lanjut Dedi.

Melihat kejadian ini, FK3I meminta kepada pihak Kementerian Kehutanan untuk melakukan kajian regulasi, serta cek fakta lapangan yang telah pihaknya investigasi bersama Kader Konservasi Lokal.

“Jika dibiarkan, ini akan jadi neraka bagi kelestarian lingkungan dan kawasan konservasi,” ujarnya.

Dedi memaparkan, dalam hal ini FK3I akan melakukan pemantauan proses pembangunan, yang tengah berlangsung di Kawasan Blok Rehabilitasi di TWA Cimanggu.

“Kami akan lakukan pemantauan proses pembangunan dan akan mengajukan permohonan informasi, terkait izin sarana yang dikelola oleh pihak ketiga selama 35 tahun plus 5 tahun,” paparnya.

Baca Juga:Antisipasi Risiko Kecelakaan, Pengawasan di Kawasan Wisata Bandung Barat Diperketat Jelang NataruJelang Nataru, BPBD Bandung Barat Petakan Kawasan Wisata Rawan Bencana

Menurut Dedi, sampai sekarang ini pengelolaan kawasan di wilayah Bandung Selatan kondisinya semakin hari kian mengkhawatirkan.

Pasalnya, kawasan selatan Ciwidey dan Rancabali memiliki fungsi ekologis vital sebagai daerah tangkapan air dan penyangga keseimbangan lingkungan Kabupaten Bandung.

Kerusakan kawasan hutan konservasi dinilai akan berdampak langsung terhadap ancaman longsor, banjir, hingga krisis air bersih bagi masyarakat sekitar.

“Selain adanya program KHDPK yang tidak sesuai dengan regulasi dalam implementasi di Desa Patengang, kami juga melihat indikasi bagi-bagi lahan konservasi yang diduga untuk kepentingan politik dan pengusaha,” pungkasnya. (Bas)

0 Komentar