Aa Sukmana menceritakan, Pemerintah Kota Banjar pernah meluncurkan program untuk mendorong pedagang berjualan secara online. Namun, inisiatif tersebut tidak berjalan mulus.
“Awalnya, memang ada beberapa pembelian, tetapi hanya dari lingkungan dinas KUKMP saja. Setelah itu, tidak ada lagi pembelian melalui online. Kami merasa saran ini kurang didukung secara menyeluruh oleh semua pihak terkait, jadi programnya seperti setengah-setengah,” keluhnya.
Menurut analisis Aa Sukmana, sepinya pasar dipicu oleh dua faktor utama yakni persaingan ketat dengan toko online dan kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit. Masyarakat kini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok, menunda pembelian barang sekunder seperti pakaian. Bahkan, sektor pangan seperti sayuran pun ikut melambat, padahal biasanya selalu ramai di pagi hari.
Baca Juga:Kehangatan Bernuansa Heritage dalam Momen Berbuka Puasa “A Wishful Ramadan” ala de Braga by ARTOTELAda 250 Kursi Mudik Gratis Pemkot Bandung, Siap Antar Warga Pulang ke Kota-kota Ini!
Para pedagang berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian serius. Mereka menginginkan Pasar Banjar dapat kembali ramai dan menjadi ikon belanja Kota Banjar, terutama di momen-momen penting seperti Lebaran.
“Pedagang berharap pemerintah Kota Banjar memberikan perhatian khusus dan serius. Mereka sangat ingin Pasar Banjar dapat kembali ramai,” harapnya. (CEP)
