Penjahit Rumahan Bersiap Hadapi Lonjakan Pesanan

Seorang Penjahit Rumahan sedang menyelesaikan pesanan di kios jahitnya, menjelang Ramadhan, permintaan jasa ja
Seorang Penjahit Rumahan sedang menyelesaikan pesanan di kios jahitnya, menjelang Ramadhan, permintaan jasa jahit di Dito Tailor mulai mengalami peningkatan, Jumat (6/2/2026). Foto: Doc Pribadi Dito Tailor
0 Komentar

Menjelang bulan suci Ramadan, suara mesin jahit kembali terdengar lebih sering dari rumah-rumah sederhana. Pesanan belum sepenuhnya memuncak, namun para penjahit rumahan sudah bersiap, belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, menghadapi lonjakan pekerjaan yang biasanya datang sejak awal puasa hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Magang/Anya Anindya Clarissa

Seperti yang dirasakan seorang penjahit rumahan di Bandung Timur, Dito Tailor yang telah menggeluti bidang ini selama sekitar tiga tahun. Dalam kesehariannya ia menyediakan layanan berbagai jenis pakaian untuk pria dan wanita, termasuk blouse, gamis, gaun, jas, celana,rok dan layanan permak. Usaha jahit yang dijalankannya ini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga.

“Kalau sekarang masih terbilang normal ya, belum terlalu ramai. Biasanya pas sudah memasuki puasa baru terasa peningkatannya,” kata Dito Tailor kepada Jabar Ekspres Jumat (6/2/2026).

Baca Juga:Di Balik Kue Keranjang Imlek, Ada Konsistensi yang Terjaga Lebih dari Dua DekadeKurang Terawat, Halte Depan UIN Bandung Dinilai Tak Nyaman

Menurutnya pesanan yang paling banyak diminati menjelang Ramadhan hingga Lebaran adalah pakaian berbahan batik dan seragam untuk menghadiri pesta pernikahan,acara keluarga maupun kegiatan keagamaan.

Dalam kondisi normal, ia dapat menerima sekitar empat hingga lima pesanan di setiap harinya, namun jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah saat permintaan masyarakat pun meningkat menjelang Puasa.

Bertambahnya pesanan juga berdampak pada waktu pengerjaan yang semakin padat.

Selain jumlah pesanan, waktu pengerjaan juga menjadi tantangan tersendiri bagi Dito , ia mengaku sempat menolak beberapa pesanan karena pemesanan ingin hasil yang cepat, sementara kapasitas pengerjaannya terbatas.

“Soalnya pengen cepet, sementara pesanan yang lain juga masih banyak kan, jadi sempet saya tolak,” katanya.

Ia menjelaskan, keterbatasan tenaga dan waktu membuatnya harus semakin selektif dalam menerima pesanan agar kualitas jahitan tetap terjaga. Meski demikian, ia mengaku senang karena meningkatnya pesanan menjadi tanda usahanya masih diminati oleh masyarakat.

Terkait harga jasa jahit, ia memastikan masih relative stabil. Kenaikan harga jasa jahit biasanya diberlakukan saat memasuki bulan puasa, menyesuaikan ddengan lonjakan pesanan dan meningkatnya kebutuhan operasional.

“Kalau sekarang masih standar, biasanya pas puasa baru naik sedikit,” tambahnya.

0 Komentar