Kepala Dapur SPPG Cibeber 1 Ungkap Penyebab Insiden Menu MBG

Ilustrasi: Pelajar menunjukan menu MBG pada bulan ramadan tahun lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Ilustrasi: Pelajar menunjukan menu MBG pada bulan ramadan tahun lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cibeber 1, Kota Cimahi, sempat diwarnai kendala pada pekan pertama operasional.

Salah satu temuan yang menjadi sorotan adalah ditemukannya hewan kecil pada buah yang disajikan kepada siswa.

Kepala Dapur SPPG Cibeber 1, Daffa Akbar, mengakui insiden tersebut terjadi pada tahap awal pelaksanaan program, saat proses kerja masih dalam masa penyesuaian.

Baca Juga:Makin 'Pedas'!  Harga Cabai di Pasar Ujung Berung Bandung Jadi Rp90 Ribu per KilogramMasjid Raya Al Jabbar, Ikon Megah Perpaduan Ibadah, Edukasi, dan Wisata Religi di Bandung

“Di awal-awal memang sempat ada masalah. Waktu itu buah yang disajikan pisang muli, dan di pisang tersebut ditemukan hewan kecil jenis cocopet,” ujar Daffa saat diwawancarai Jabar Ekspres, Jumat (6/2/2026).

Menurutnya, kejadian tersebut disebabkan kurangnya ketelitian dalam proses penyortiran bahan pangan, mengingat tim dapur masih beradaptasi dengan ritme kerja yang baru.

“Itu terjadi di minggu pertama. Karena masih belum terbiasa, jadi ada kesalahan dan kurang teliti dalam pemorsian,” ungkapnya.

Keluhan dari pihak sekolah langsung ditindaklanjuti oleh pengelola dapur. Menu pada hari berikutnya diganti, disertai evaluasi internal yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Setelah itu langsung kami evaluasi terus-menerus. Keesokan harinya menu diganti dan kami perbaiki prosesnya,” jelas Daffa.

Selain aspek higienitas, pengelolaan kebutuhan khusus siswa juga menjadi perhatian. Daffa menyebut pendataan siswa dengan alergi makanan telah dilakukan sejak awal melalui kerja sama resmi dengan pihak sekolah.

“Sejak ditetapkan sebagai kepala dapur, saya melakukan kerja sama melalui MOU dengan sekolah. Dari situ kami mendata anak-anak yang memiliki alergi makanan melalui Google Form,” katanya.

Baca Juga:Masjid Raya Al Jabbar, Ikon Megah Perpaduan Ibadah, Edukasi, dan Wisata Religi di BandungBULOG Kancab Bandung dan Satgas Saber Pangan Polda Jabar Pantau Harga Bapokting Jelang Ramadan dan Idulfitri

Berdasarkan data tersebut, dapur menyiapkan menu pengganti sesuai kondisi siswa. Misalnya, siswa yang alergi nasi akan diganti dengan kentang atau olahan lain, sementara siswa yang tidak mengonsumsi ikan akan diberikan menu berbasis ayam.

Dalam proses pengolahan makanan, Daffa menjelaskan salah satu potensi risiko keracunan berasal dari proses pendinginan makanan yang tidak optimal sebelum pemorsian.

“Penyebab yang paling sering terjadi itu karena makanan masih panas tapi langsung dimasukkan ke ompreng,” terangnya.

0 Komentar