JABAR EKSPRES – Pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Cimahi tak sepenuhnya berjalan mulus pada fase awal. Kendala teknis distribusi hingga persoalan kualitas bahan makanan sempat muncul, terutama pada minggu-minggu pertama operasional dapur.
Kepala SPPG Cibeber 1, Daffa Akbar mengakui akses jalan menuju sejumlah sekolah menjadi tantangan tersendiri dalam pendistribusian makanan. Kondisi jalan yang menanjak dan kurang baik menuntut kehati-hatian ekstra dari petugas distribusi.
“Kendala ya? Distribusi karena mungkin ini jalan aksesnya agak ini ya. Jalan aksesnya agak apa, jalannya kan kurang bagus gitu ya. Jadi awal-awal mungkin ya apa pihak distribusi para sopir jadi agak harus hati-hatilah dalam membawa makanan omprengnya gitu,” ujar Daffa kepada Jabar Ekspres, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga:Jaga Higienitas MBG, Dapur SPPG Cibeber 1 Cimahi Terapkan Prosedur Ketat Sejak Dini HariDipicu Cuaca Buruk dan Carteran MBG, Harga Kepokmas di Cimahi Naik Tajam Jelang Akhir Tahun
Ia menjelaskan, pihak dapur harus mencari cara agar makanan tetap aman selama perjalanan, terutama saat melewati tanjakan.
“Jadi diakalin gimana caranya biar si ompreng ini nggak apa, pas naik ke tanjakan akses ini biar nggak berantakan gitu,” katanya.
Dalam operasional distribusi, SPPG Cibeber 1 mengerahkan dua unit kendaraan untuk melayani satu sekolah. Pola pengiriman dilakukan secara bergiliran.
“Dua mobil, jadi ngeriling gitulah ibaratnya. jadi dua kali bolak-balik,” jelasnya.
Daffa menambahkan, makanan MBG disalurkan satu kali dalam sehari dan difokuskan untuk makan siang. “Makannya, satu kali aja jadi makan siang aja,” ujar Daffa singkat.
Program MBG di dapur SPPG Cibeber 1 telah berjalan selama tiga bulan sejak mulai beroperasi pada 20 Oktober lalu, dengan dukungan tenaga yang disebut sebagai relawan.
Namun, pada fase awal pelaksanaan, sejumlah keluhan sempat diterima, terutama terkait kualitas makanan. Daffa tak menampik hal tersebut.
Baca Juga:Ancaman Baru di Cimahi, Lonjakan Sampah Terjadi Gegara Program MBGCegah Keracunan MBG, Cimahi Perketat Pemeriksaan Bahan Baku di 34 Titik SPPG
“Ada, ada, ada (keluhan). Jadi pas awal-awal itu kami kan masih belum apa ya, masih belum terbiasa ya, apalagi maksudnya relawan-relawan masih belum apa, ngertilah alur masak dan pendistribusiannya dan sebagainya,” kata dia.
Selain faktor adaptasi relawan, persoalan juga muncul dari sisi pemasok bahan makanan karena sulitnya akses menuju dapur tersebut.
“Dan kami juga pas awal-awal itu ada sempat bermasalah dengan supplier sehingga akhirnya supplier nya ganti gitu,” terang Daffa
