Saat itu, ia berjanji kepada Tuhan: jika berhasil menyelesaikan enam siklus kemoterapi, ia akan mendirikan komunitas pendamping penyintas kanker.
Kini, Yanti telah mencapai masa remisi panjang, rutin kontrol tahunan, dan tetap aktif mendampingi ribuan orang meski menyadari risiko rekurensi selalu ada. Data BCS mencatat sekitar 600 anggota terdaftar.
Dalam empat tahun terakhir, layanan telah menjangkau sekitar 900 pasien yang keluar-masuk. Selain edukasi, BCS mengelola rumah singgah “Kasih” bagi pasien dari luar Bandung yang berobat di RS Hasan Sadikin (RSHS).
Baca Juga:115 Mahasiswa Jawa Barat Menjalani Pendidikan Dasar Bela Negara Menwa MahawarmanPemuda Energi Tuntut Audit Proyek Bermasalah di Rakernas METI
Dengan biaya sukarela hanya Rp10.000, pasien dan satu pendamping bisa menginap tanpa batas waktu selama pengobatan berlangsung. Fasilitas meliputi beras, air minum, kompor, dapur bersama, serta edukasi perawatan luka dan nutrisi.
Filosofi BCS menolak pembedaan status: pasien aktif, penyintas, atau pendamping diperlakukan setara. “Kami ingin membangun semangat juang bersama. Di setiap acara, tak terlihat siapa pasien atau bukan agar tak ada yang merasa putus asa,” kata Yanti.
Dia menegaskan, kanker bukan akhir segalanya. “Selama dokter masih memberikan peluang pengobatan, lanjutkan terapi. Kembalilah beraktivitas sesuai kemampuan. Kita berjuang bersama kanker bisa dilawan, harapan tetap ada,” pungkasnya. (bbs)
