Truk-truk yang bocor ini menyebabkan air lindi atau cairan sampah tercecer di sepanjang jalan, terutama jalan protokol, yang bukan hanya menjadi sumber bau menyengat tetapi juga potensi sumber penyakit dan pencemaran lingkungan serius.
Irwan Herwanto, yang juga merupakan aktivis dan pemerhati sosial, menyoroti ironi di balik kondisi ini. Kota Banjar yang telah berkali-kali meraih penghargaan Adipura justru membiarkan fasilitas dasar kebersihannya rusak.
“Bagaimana masyarakat bisa diajak disiplin mengelola sampah, jika sarana pengangkutnya saja justru ‘menyebarkan’ kembali kuman dan bau di jalan raya?” tanyanya retoris. Ia menegaskan bahwa warga yang telah taat membayar retribusi berhak mendapatkan lingkungan yang bersih secara maksimal.
Baca Juga:44 Ton Sampah Membanjiri TPA Cibeureum Setiap Hari, DLH Banjar Serukan Pilah dari RumahSampah di Sejumlah TPS Kota Banjar Menumpuk, DLH: Anggaran untuk BBM Pengangkut Belum Ada
Menyikapi hal ini, muncul desakan untuk dilakukan audit anggaran perawatan kendaraan di DLH. Pemerintah Kota Banjar dituntut untuk segera melakukan tindakan preventif.
Langkah darurat yang diusulkan antara lain menghentikan operasional truk yang rusak parah untuk perbaikan sementara agar tidak lagi membocorkan cairan. Selain itu, Pemerintah Kota dan DPRD didesak untuk memprioritaskan anggaran pengadaan truk sampah baru yang memenuhi standar. (CEP)
