Hotel Tjimahi menyimpan jejak sejarah panjang yang tak terpisahkan dari perjalanan Kota Cimahi. Bangunan ini pertama kali mengantongi izin pada 1927 sebagai sebuah Wisma Pension, yang kala itu dibangun oleh Nyi Raden Fatimah Singawinata. Di masa awal berdirinya, tempat ini lebih dikenal dengan nama Wisma Pension atau Losman Cimahi.
Seiring waktu, bangunan tersebut menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting. Hotel Tjimahi kerap dijadikan tempat singgah para tentara, bahkan tercatat pernah disinggahi Raymond Westerling pasca peristiwa APRA.
Westerling tidak menginap sebagai tamu, ia tinggal di sana karena istrinya merupakan anak dari suami nenek pemilik Hotel Tjimahi yang berkebangsaan Prancis, bernama Gronier.
Baca Juga:Masifnya Pembangunan Perumahan Picu Banjir di Kota CimahiDi Balik Rumah Singgah Cipageran, Ini Cara Pemkot Cimahi Tata Ulang Perlindungan Warga Rentan
Hingga kini, sejumlah peninggalan bersejarah masih terawat dan tetap dipelihara oleh keturunan pendirinya, menjadikan Hotel Tjimahi bukan sekadar penginapan, melainkan bagian hidup dari narasi sejarah Cimahi.
JABAR EKSPRES – Kabar mengejutkan soal rencana penjualan Hotel Tjimahi yang menyebar cepat dan memantik keprihatinan publik. Hotel yang berdiri di tepi Jalan Raya Amir Machmud, Kota Cimahi, itu bukan sekadar bangunan komersial, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah kota dan bangsa sejak masa kolonial.
Isu penjualan hotel bersejarah tersebut mencuat setelah sebuah akun media sosial TikTok mengunggah informasi penawaran Hotel Tjimahi dengan harga Rp35 miliar. Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 3.254 meter persegi itu disebut-sebut tengah dilepas oleh pemiliknya.
Hotel Tjimahi memiliki jejak panjang dalam sejarah Cimahi. Bangunan ini didirikan oleh pasangan suami istri Nyi Rd. Fatimah Singawinata dan Veen, seorang warga negara Belanda. Pada mulanya, tempat tersebut merupakan sebuah villa yang dikelilingi kebun mawar, sekaligus kediaman keluarga.
Seiring waktu, bangunan itu beralih fungsi menjadi pension. Hingga akhirnya pada tahun 1927, izin bangunan diubah menjadi hotel menandai secara resmi berdirinya Hotel Tjimahi yang dikenal hingga kini.
Sejak itu, hotel tersebut menjadi bagian dari denyut kehidupan Cimahi, dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga era modern.
Kini, pengelolaan Hotel Tjimahi berada di tangan generasi ketiga keluarga pendiri, Theresia Gerungan Soetamanggala, cucu Nyi Rd. Fatimah. Namun, di usia hotel yang hampir satu abad, 99 tahun Theresia dihadapkan pada keputusan paling berat dalam hidupnya, melepas warisan keluarga yang sarat kenangan.
