PKL Cicadas Protes Rencana Pembangunan Halte BRT, Spanduk Bernada Sindiran Terpasang

Spanduk protes yang terpasang di salah satu lokasi bakal proyek pembangunan koridor transportasi massal Bus Ra
Spanduk protes yang terpasang di salah satu lokasi bakal proyek pembangunan koridor transportasi massal Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Pasar Cicadas, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa (6/1). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Cicadas, Kota Bandung, menyuarakan penolakan terhadap rencana pembangunan halte transportasi massal Bus Rapid Transit (BRT) di lokasi tempat mereka biasa berjualan.

Penolakan tersebut diwujudkan melalui pemasangan spanduk bernada protes dan sindiran yang terpasang di sepanjang lapak PKL, Selasa (6/1/2026).

Dalam spanduk berwarna putih dengan tulisan merah mencolok, para pedagang mengekspresikan keresahan mereka terkait ketidakjelasan nasib pascapandemi Covid-19, sekaligus kekhawatiran akan kehilangan mata pencaharian akibat proyek tersebut.

Baca Juga:Pemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov JabarRelawan PNM Kembali Turun Langsung Salurkan Bantuan dan Kuatkan Korban Bencana

Spanduk itu menjadi simbol kegelisahan PKL yang merasa belum sepenuhnya pulih secara ekonomi.

Pantauan di lokasi menunjukkan, area tersebut saat ini masih dipenuhi lapak PKL, tumpukan sampah, serta aktivitas bongkar muat barang. Di sisi lain, kawasan itu disebut-sebut akan segera ditata sebagai bagian dari pembangunan halte BRT yang masuk dalam program pengembangan transportasi massal Kota Bandung.

Salah seorang PKL Cicadas, Afwan (35), mengaku para pedagang tidak menolak pembangunan secara mutlak, namun berharap pemerintah memberikan kejelasan solusi sebelum melakukan penertiban.

“Kami bukan anti pembangunan. Tapi tolong nasib kami juga dipikirkan. Setelah Covid saja penghasilan belum pulih, sekarang mau digusur tanpa kejelasan mau dipindah ke mana,” ujarnya.

Menurutnya, sebagian besar PKL di kawasan tersebut menggantungkan hidup sepenuhnya dari aktivitas berdagang harian. Ketidakpastian lokasi relokasi membuat para pedagang merasa tertekan dan khawatir tidak mampu bertahan jika harus berpindah tanpa dukungan yang jelas.

PKL lainnya menilai, komunikasi dari pihak terkait masih minim. Mereka berharap pemerintah melakukan dialog terbuka sebelum proyek berjalan, termasuk menyediakan tempat pengganti yang layak dan strategis.

“Kalau memang harus pindah, kami minta lokasi yang jelas dan bisa untuk jualan. Jangan cuma disuruh kosongkan, tapi tidak ada solusi,” kata pedagang lainnya yang enggam disebutkan namanya.

Baca Juga:De Braga by ARTOTEL Resmi Perkenalkan General Manager Baru dan Raih Sertifikasi GSTC20 Delegasi Internasional Hadir di Bandung, JCI Dorong Kolaborasi Bisnis Berkelanjutan

Hingga berita ini diturunkan, para PKL masih bertahan berjualan seperti biasa sambil menunggu kejelasan lanjutan terkait rencana pembangunan halte BRT tersebut.

Mereka berharap aspirasi yang disampaikan melalui spanduk dan suara protes i

0 Komentar