Saat Hujan jadi Ancaman di Banyumas Raya Sepanjang 2025

Ilustrasi Losngsor
Ilustrasi - Tim SAR gabungan mengerahkan ekskavator untuk mencari tiga korban yang belum ditemukan di lokasi bencana tanah longsor, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada hari kedelapan operasi pencarian, Kamis (20/11/2025). ANTARA/Sumarwoto
0 Komentar

Kondisi serupa terjadi di Banjarnegara, daerah dengan topografi pegunungan yang sejak lama dikenal rawan longsor. Hujan deras menjadi faktor pemicu utama bencana, terutama di lereng-lereng curam yang telah dimanfaatkan untuk permukiman dan lahan pertanian.

Di Banjarnegara, hujan deras kerap diikuti suara gemuruh dari perbukitan, pertanda tanah mulai bergerak. Warga yang tinggal di zona rawan harus selalu bersiaga, memantau perubahan lingkungan, dan siap mengungsi jika hujan tak kunjung reda.

Bencana tanah longsor yang menimbulkan korban jiwa juga melanda Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, pada Minggu (16/11) siang. Longsor tersebut diduga kuat dipicu curah hujan sangat tinggi yang mengguyur wilayah perbukitan selama beberapa jam. Hingga hari terakhir operasi pencarian pada Selasa (25/11), sebanyak 17 korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara 11 orang lainnya belum ditemukan.

Baca Juga:Hutan yang Menyusut, Bencana MendekatRelaksasi KUR untuk Debitur Korban Bencana Sumatera

Rentetan longsor di Cilacap dan Banjarnegara menunjukkan bahwa hujan ekstrem memiliki dampak berlapis. Selain faktor alam, tekanan aktivitas manusia turut memperbesar risiko. Alih fungsi lahan, minimnya vegetasi penahan tanah, serta sistem drainase yang kurang optimal mempercepat kejenuhan tanah, saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

Sementara itu, Kabupaten Banyumas dan Purbalingga menghadapi dampak hujan dengan karakter berbeda. Genangan air, banjir lokal, dan pohon tumbang menjadi kejadian yang relatif sering terjadi sepanjang 2025. Limpasan air dari wilayah hulu yang diguyur hujan deras menyebabkan sungai-sungai meluap dalam waktu singkat.

Ancaman hujan ekstrem di Banyumas Raya juga tidak terlepas dari dinamika atmosfer skala besar. Potensi terbentuknya siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa pada akhir tahun 2025 hingga Februari 2026 menjadi faktor yang meningkatkan intensitas hujan dan angin. Meskipun jarang melintas langsung di wilayah Indonesia, dampak tidak langsung siklon tropis cukup signifikan bagi wilayah daratan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan terpadu antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat untuk menghadapi ancaman tersebut. Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan Jawa Tengah bagian selatan termasuk wilayah rawan dampak siklon tropis yang berpotensi terjadi hingga Februari 2026.

0 Komentar