Penurunan Muka Tanah di Kabupaten Bandung Dinilai Signifikan, Picu Banjir Dayeuhkolot

Penurunan Muka Tanah di Kabupaten Bandung Dinilai Signifikan, Picu Banjir Dayeuhkolot
Ilustrasi: Dua anak duduk di pangkalan ojek yang terendam banjir di Baleendah, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Penurunan muka tanah disebut menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir yang kerap melanda Dayeuhkolot dan sekitarnya, terutama saat musim hujan.

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menyatakan kontribusi penurunan tanah terhadap banjir di wilayah tersebut terbilang signifikan.

Heri mengungkapkan, laju penurunan tanah di Dayeuhkolot mencapai rata-rata 8 sentimeter per tahun, bahkan pernah menyentuh 10 sentimeter per tahun.

Baca Juga:Wagub Jabar Sebut Penanganan Banjir Dayeuhkolot Bakal Dievaluasi TotalBanjir 1,5 Meter Lumpuhkan Dayeuhkolot, Ratusan Warga Terancam dan Puluhan Mengungsi

Penurunan yang terjadi secara terus-menerus membentuk cone subsidence atau cekungan yang kemudian menjadi area genangan banjir.

“Secara alamiah air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Akibat penurunan tanah, wilayah seperti Dayeuhkolot dan Bojongsoang kini menyerupai mangkuk sehingga air mudah terkumpul dan lama surut,” kata Heri, Rabu (17/12/2025).

Ia menilai, meski belum dimodelkan secara rinci untuk Bandung, pengalaman Jakarta menunjukkan 50–100 persen perluasan banjir dipicu oleh penurunan tanah.

Pola serupa juga terlihat di sejumlah wilayah Bandung Raya seperti Gedebage dan Rancaekek yang kerap terdampak banjir.

Menurut Heri, eksploitasi air tanah menjadi faktor dominan penurunan muka tanah. Awalnya dilakukan oleh sektor industri, namun seiring pertumbuhan penduduk dan keterbatasan layanan air perpipaan, pengambilan air tanah oleh masyarakat semakin masif.

“Eksploitasi air tanah secara berjamaah membuat muka tanah terus turun,” ujarnya.

Terkait upaya penanggulangan, Heri menilai keberadaan kolam retensi penting untuk mengurangi banjir, namun kapasitas kolam retensi Cieunteung saat ini masih belum memadai.

Baca Juga:Bupati Bandung Sentil Perusahaan di Dayeuhkolot, Harus Turut Andil Atasi BanjirSudah Tiga Hari Terendam, Banjir di Kampung Bojongasih Dayeuhkolot Belum Surut

Ia menyebut Bandung memerlukan kolam retensi berkapasitas besar atau banyak kolam kecil yang tersebar.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqawa, mengatakan pola banjir kini mengalami perubahan.

Berdasarkan penjelasan BBWS Citarum, banjir tidak semata dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga fenomena backwater akibat naiknya muka air Sungai Citarum.

Zeis menyebut, kebutuhan mitigasi banjir telah diatur dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Tegalluar, yang mewajibkan pengembang menyediakan 10 persen lahan sebagai area resapan air.

“Jika kewajiban itu tidak dipenuhi, izin tidak akan diterbitkan. Ini upaya paksa yang harus diperkuat ke depan,” kata Zeis.

0 Komentar