JABAR EKSPRES – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan bahwa sebanyak 580.000 pengungsi Suriah yang sebelumnya berada di Turki telah kembali ke negara asal mereka. Namun, menurut Erdogan, situasi keamanan dan stabilitas jangka panjang Suriah masih terhambat oleh tindakan agresif Israel.
“Tindakan agresif Israel terhadap Suriah saat ini menjadi hambatan terbesar bagi keamanan dan stabilitas jangka panjang di negara itu,” ujarnya.
Pada April lalu, Erdogan menyebut Turki menampung lebih dari 4 juta pengungsi, dengan sekitar 2,7 juta di antaranya berstatus perlindungan sementara. Sementara itu, data migrasi resmi terbaru menunjukkan jumlah warga Suriah yang masih berada di Turki kini lebih dari 2,3 juta orang.
Baca Juga:Jafar/Felisha Jadikan Kekalahan dari China sebagai Bekal Evaluasi di BWF World Tour Finals 2025Trump Tetapkan Rezim Maduro sebagai Organisasi Teroris, AS Berlakukan Blokade Total Venezuela
Dalam perkembangan hubungan diplomatik, Turki pada akhir Oktober menunjuk Wakil Menteri Luar Negeri Nuh Yilmaz sebagai duta besar di Suriah, pertama kalinya sejak 2012. Konsulat Jenderal Turki di Aleppo juga kembali beroperasi.
Media lokal melaporkan bahwa Kedutaan Besar Suriah di Ankara serta Konsulat Jenderal di Gaziantep tengah dipersiapkan untuk dibuka kembali.
Situasi politik Suriah berubah drastis setelah kelompok bersenjata merebut Damaskus pada 8 Desember 2024, yang berujung pada pengunduran diri Presiden Bashar al-Assad. Pada Januari berikutnya, Ahmed Sharaa ditunjuk sebagai presiden sementara Suriah.*
SUMBER: ANTARA
