MIXI MIME Festival 2025 Gaungkan “Sora Manusa” di Bandung, Tegaskan Suara Kemanusiaan dan Solidaritas Global

Seniman pantomim dari Mixi Imaji Mime Theater Andini Mardiani menampilkan gerakan pantomim dengan menggunakan
Seniman pantomim dari Mixi Imaji Mime Theater Andini Mardiani menampilkan gerakan pantomim dengan menggunakan topeng aktivis Munir Said Thalib di kafe Pamanah Rasa, Kota Bandung. Festival itu juga menampilkan sejumlah arsip dan dokumentasi tentang seni pantomim serta kegiatan lapakan komunitas. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – MIXI MIME Festival 2025 bertajuk “Huru Hara Hurra – Sora Manusa” selesai digelar selama tiga hari di Bumi Pemanah Rasa, Jalan Van Devender No. 14, Bandung, beberapa waktu yang lalu.

Festival pantomim militan ini, kembali hadir sebagai ruang seni sekaligus pernyataan sikap kemanusiaan, bertepatan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia dan penguatan solidaritas global, termasuk untuk Palestina.

Seniman pantomim sekaligus penggagas festival, Wanggi Hoed, menegaskan bahwa MIXI MIME Festival bukan sekadar perhelatan seni pertunjukan. Festival ini dirancang sebagai upaya merawat ingatan kolektif dan memperluas jejaring lintas pengetahuan, sekaligus membuka ruang ekspresi bagi seniman dan komunitas dari berbagai disiplin.

Baca Juga:Dorong Hilirisasi Gas Bumi, PGN Tingkatkan Pemanfaatan Jadi Produk Bernilai TinggiWacana Pilkada Lewat DPRD, Bupati Bandung Pilih Irit Bicara

“Festival ini menjadi resonansi untuk merawat daya ingatan, memperpanjang dan memperluas jejaring, serta membuka ruang bagi suara kemanusiaan agar kembali diperdengarkan dan dibicarakan,” ujar Wanggi kepada Jabar Ekspres, Selasa (16/12).

Tema “Huru Hara Hurra – Sora Manusa” menjadi benang merah seluruh rangkaian acara. Wanggi menyebut tema ini sebagai manifestasi suara manusia di tengah kekacauan global, mulai dari krisis kemanusiaan, pangan, hingga situasi geopolitik internasional.

“Ini adalah manifestasi suara kemanusiaan: kebebasan, perlawanan, ingatan, kehilangan, harapan, sekaligus perenungan. Festival ini mempertanyakan ulang, sejauh mana kita masih berkesadaran sebagai manusia,” katanya.

Tema tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai pertunjukan pantomim, musik, pembacaan puisi, hingga diskusi yang membahas isu HAM, Bandung Spirit, dan solidaritas kemanusiaan lintas batas.

Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, MIXI MIME Festival tetap digelar secara mandiri tanpa dana sponsor. Wanggi menyebut hal ini sebagai bagian dari etos dan sikap festival yang terus dijaga.

“Ini jejak sejarah pantomim di Bandung. Etos kemandirian dan jejaring yang terawat menjadi energi utama festival,” ujarnya.

Bandung, dengan sejarahnya sebagai kota Konferensi Asia Afrika, turut menguatkan semangat festival dalam mengusung nilai solidaritas global dan kemanusiaan.

Baca Juga:Gunakan Metode Sling Load, Pertamina Gerak Cepat Pasok LPG ke Daerah Bener Meriah Petir Hantam Rumah di Cikalongwetan, Seorang Mahasiswa Terluka

Selama tiga hari, festival akan diisi dengan beragam kegiatan, antara lain: pameran arsip dan dokumentasi, pertunjukan seni pantomim, musik, dan pembacaan puisi, diskusi tematik dan diskusi buku foto, pemutaran film, lelang donasi, serta lapakan militan komunitas.

0 Komentar