Seluruh agenda tersebut dikurasi untuk saling terhubung dan menyampaikan pesan kemanusiaan secara konsisten.
“Mereka yang terlibat adalah orang-orang yang berdedikasi dalam kerja-kerja pengetahuan dan perawatan komunitas, serta menjalani perjuangan itu dalam keseharian sebagai sikap politik,” jelas Wanggi.
Salah satu agenda penting adalah diskusi bertajuk “Suara Ruang Hidup dan Solidaritas Kemanusiaan Warga”. Diskusi ini berfokus pada praktik perawatan kehidupan sehari-hari dan gerakan warga yang selama ini memperjuangkan hak dan kewajibannya sebagai manusia.
Baca Juga:Dorong Hilirisasi Gas Bumi, PGN Tingkatkan Pemanfaatan Jadi Produk Bernilai TinggiWacana Pilkada Lewat DPRD, Bupati Bandung Pilih Irit Bicara
Wanggi berharap diskusi tersebut dapat menjadi pijakan untuk agenda jangka panjang, terutama bagi generasi mendatang dalam membangun aktivisme dan solidaritas yang berkelanjutan.
Ke depan, Wanggi berharap seni pantomim semakin diakui sebagai ruang pengetahuan dan pemikiran yang lahir dari berbagai disiplin, tidak hanya dari senimannya.
Melalui MIXI MIME Festival 2025, pantomim kembali ditegaskan sebagai medium sunyi yang lantang menyuarakan kemanusiaan di tengah huru-hara dunia, sora manusa terus diupayakan untuk tetap terdengar.
“Pantomim adalah seni peradaban tertua sebelum kata-kata lahir. Ia relevan di zaman ketika manusia sudah lelah dengan kata-kata, karena kita sering lupa mencintai dan merawat kehidupan serta alam,” pungkasnya.
