“Kami telah membahas hal ini sejak lama agar pencak silat menjadi bagian integral dari pendidikan, sehingga dapat menarik minat anak muda,” papar Edwin.
Meski demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan tenaga pelatih yang kompeten. “Jika setiap sekolah dasar membutuhkan setidaknya satu pelatih, maka kebutuhan secara keseluruhan sangat besar,” ungkapnya.
Meskipun Bandung memiliki banyak praktisi dan ahli pencak silat, tidak semuanya siap mengajar di tingkat pendidikan dasar dan menengah. “Mereka perlu dilatih untuk menjadi pendidik yang efektif, dengan kemampuan komunikasi yang baik dan pendekatan yang sesuai untuk siswa muda. Program seperti Training of Trainers (TOT) sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelatih,” tambahnya.
Baca Juga:IPRC Adakan Forum Profesor Bandung, Refleksi Akhir Tahun Kinerja Wali Kota Stafsus Presiden Tiar Nabilla Karbala Bekali Mahasiswa SBM ITB Skill Pitching Bisnis
Edwin optimistis bahwa dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan silat, dan lembaga pendidikan, pencak silat dapat berkembang menjadi aset budaya yang lebih inklusif. Ia mengajak seluruh stakeholders untuk bergabung dalam gerakan ini, demi menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah modernisasi. Penghargaan ini, menurutnya, menjadi motivasi tambahan untuk memperkuat ekosistem pencak silat di Indonesia.
Dalam konteks lebih luas, pencak silat bukan hanya seni bela diri, melainkan simbol identitas nasional yang mencerminkan nilai-nilai keberanian, disiplin, dan harmoni. Dengan dukungan dari tokoh seperti Edwin, diharapkan generasi mendatang dapat terus menghargai dan mengembangkan warisan ini. Upaya ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam menjaga keberagaman budaya di mata dunia. (bbs)
