Acara ini menghadirkan Ketua Dewan Pembina Yayasan Priangan Cancer Care, dr. Monty Priosodewo Soemitro, serta dokter bedah onkologi dr. Dodi Lintong Lumban Gaol Sp.B Subsp. Onk(K).
Monty menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini. Menurutnya, sebagian besar pasien datang ke rumah sakit ketika kanker sudah berada di stadium 3 bahkan stadium 4.
“Kebanyakan pasien di RSHS maupun rumah sakit lain datang dengan kondisi stadium 3 atau 4. Yang stadium 1 dan 2 itu masih sedikit. Padahal semua puskesmas di Cimahi sudah punya USG,” ungkapnya.
Baca Juga:Manajemen Persib Enggan Dulu Bahas Perpanjangan Kontran Bojan Hodak, Ini Alasannya!Persib Tambah Amunisi: Rumor Sebut Joey Pelupessy, Tapi yang Datang Malah Marteen Paes!
Ia juga menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya pemeriksaan serta menganggap prosesnya mahal, padahal pemeriksaan skrining di puskesmas gratis.
“Masyarakat masih belum terinformasi dan belum sadar. Padahal kan gratis kecuali sudah stadium akhir. Tinggal menumbuhkan kesadaran masyarakatnya,” tegasnya.
Berdasarkan data American Cancer Society, Monty menyebut bahwa 1 dari 8 perempuan berpotensi terkena kanker payudara. Jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk Jawa Barat, angka ini mencapai jutaan orang.
“Untuk penduduk Jawa Barat 24 juta, artinya ada sekitar 3 juta yang berpotensi. Saya tiap Kamis operasi di RSHS, empat kali operasi setiap minggu. Sebulan bisa 16 operasi, itu baru dari satu dokter, belum rumah sakit besar lainnya,” jelasnya.
Monty juga menyoroti metode pemeriksaan payudara mandiri atau ‘SADARI’ yang sering membuat perempuan terlambat mendeteksi kondisi berbahaya karena tidak semua bisa membedakan jenis benjolan.
“Kadang SADARI membuat telat karena tidak semua paham apakah benjolan itu tumor atau apa. Banyak yang mengira akan hilang sendiri, akhirnya terlambat ditangani,” kata Monty.
Ia menekankan bahwa metode yang kini dianjurkan adalah ‘SADANIS’ atau pemeriksaan payudara secara klinis oleh tenaga kesehatan, karena dinilai lebih akurat dan cepat menangkap potensi kanker.
Baca Juga:Menanti Sanksi AFC, Persib Dipastikan Tanpa Penonton di Babak 16 Besar ACL Two?Ruang Ganti Makin Solid, Ramon Tanque Buktikan Diri di Momen Penting
“Tetap harus SADANIS. Supaya kalau ada potensi kanker bisa segera terdeteksi dan mendapatkan penanganan medis lanjutan. Ini penting untuk kesehatan masyarakat, khususnya perempuan,” tandasnya. (Mong)
