Dugaan Kejanggalan Anggaran Whoosh, KCIC Siap Kooperatif

Kereta Cepat Indonesia China. Dok instagram (kcic_whoosh)
Kereta Cepat Indonesia China. Dok instagram (kcic_whoosh)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mendalami dugaan kejanggalan anggaran dan pengadaan lahan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Diketahui, KPK saat ini tengah melakukan penelusuran dengan menyisir sejumlah titik di sepanjang jalur kereta cepat, termasuk area berskala besar yang berpotensi menimbulkan kerugian negara.

“Kami lebih mendalami lokasi-lokasi di sepanjang rute rel kereta itu, karena banyak itu ya,” ujar Ketua KPK Setyo Budiyanto melalui keterangan resminya di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, pada Rabu (3/12/2025) lalu.

Baca Juga:Hutan Kritis, Ancaman Bencana Makin Nyata!Transportasi Jawa Belum Merata, Bandung Masuk Sorotan Soal Wacana Kereta Cepat ke Surabaya

Ia mengatakan penyisiran dilakukan dengan mengelompokkan kawasan yang memiliki cakupan lahan luas, salah satunya di sekitar Stasiun Halim.

“Ini yang sedang kami dalami, apakah tanah yang lokasinya di Halim adalah milik TNI AU atau bukan. Ini belum pasti,” katanya.

Di tengah penyelidikan itu, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memastikan siap memenuhi panggilan KPK. General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, menegaskan pihaknya menghormati seluruh proses hukum yang berjalan dan tidak akan menutup diri.

“Kita menghormati semua proses hukum yang dilakukan oleh KPK. Baik KCIC maupun PSBI sangat terbuka dan siap kooperatif,” ujarnya saat ditemui di Padalarang, Bandung Barat, Senin (8/12/2025).

Eva menambahkan, KCIC akan hadir jika diminta memberikan keterangan oleh lembaga antirasuah.

“Pasti kalau dipanggil KPK kita siap. Kita kan menghormati proses hukum dan bakal kooperatif,” jelasnya. Terkait teknis pengadaan lahan yang menjadi objek penyelidikan, ia menegaskan hal itu sepenuhnya berada di ranah KPK. “Itu domain KPK, jadi biar mereka yang mengusut,” katanya.

Isu dugaan kejanggalan anggaran Whoosh mencuat setelah mantan Menko Polhukam Mahfud MD menyoroti perbedaan mencolok biaya pembangunan per kilometer antara Indonesia dan Tiongkok. Dalam video di kanal YouTube pribadinya, ia menyebut selisih biaya mencapai hampir tiga kali lipat.

Baca Juga:Gandeng Muhammadiyah, BSI Percepat Penyaluran Bantuan untuk Korban Bencana di AcehSabet 5 Penghargaan BI, Bank Mandiri Tegaskan Peran Strategis dalam Stabilitas Ekonomi Nasional

“Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per kilometer Whoosh itu 52 juta dolar AS, sementara di China 17–18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat,” ujarnya.

0 Komentar