Akibat Alih Fungsi dan Sedimentasi Sungai, KDM Akui Bencana Banjir Bertambah di 2025 

Akibat Alih Fungsi dan Sedimentasi Sungai, KDM Akui Bencana Banjir Bertambah di 2025 
Ilustrasi: Warga membawa barang miliknya saat banjir usai hujan dengan intensitas lebat di Baleendah, Kabupaten Bandung, belum lama ini. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kewaspadaan serta kesiapsiagaan bencana di Provinsi Jawa Barat jadi perhatian. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahkan telah menyebutkan, jika saat ini sudah puncaknya mitigasi di 27 kabupaten/kota.

Menyikapi hal itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, pihaknya selalu melakukan monitoring setiap hari, guna meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana.

“Mengingatkan pada warga untuk waspada dan tetap mereka harus terus dilakukan normalisasi sungai,” katanya usai rakor penanganan banjir di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang pada Selasa (9/12).

Baca Juga:Alih Fungsi Lahan Diduga Jadi Biang Kerok Banjir Bandang di Cililin, 20 Ton Ikan HanyutPTPN Bantah Alih Fungsi Lahan di Pangalengan, Tegaskan HGU Sedang Diperpanjang

Gubernur Jabar yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu mengklaim, sekarang pihaknya terus lakukan normalisasi sungai.

“Kemudian kita bersepakat nih, Bupati Bandung. Untuk mereka yang tinggal di sempadan sungai dan di bantaran sungai direlokasi,” bebernya.

KDM menjelaskan, relokasi tersebut dilakukan terhadap warga bantaran sungai di area Bojongsoang hingga Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Setelah dilakukan relokasi, kemudian sungainya akan diperlebar.

“Sehingga, menurut KDM fungsi untuk menampung airnya dapat lebih besar. Ini langkah-langkah yang dibuat Bupati (Bandung),” jelasnya.

Ketika disinggung terkait audit kerugian, KDM mengaku belum melakukan hal tersebut. Akan tetapi, dirinya mengklaim sudah meminta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jabar yang sekarang, untuk memikul tanggung jawab mitigasi bencana.

“Kemudian membuat rencana untuk kepentingan ekologi dan menghitung kerugian yang terjadi akibat bencana,” ungkapnya.

KDM mengakui, di wilayah Jawa Barat untuk masalah banjir masih menjadi bencana tahunan. Bahkan untuk 2025 ini, musibah genangan air dinilai bertambah.

Baca Juga:Terungkap 30 Proyek di KBU Tidak Punya Rekomendasi Pemprov Jabar, 500 Hektar Telah Alih Fungsi Lahan!Hadapi Bencana, Pemprov Jawa Barat akan Tertibkan Alih Fungsi Lahan hingga Keruk Danau

“Kenapa agak nambah? Kan Pangalengan-Ciwideynya sudah berubah fungsi, itu masalahnya. Jadi dari hulunya, tanahnya ngalir masuk ke sungai,” ujarnya.

Tanah yang masuk ke sungai itu, disampaikan KDM, mulai dari Ciwidey, kemudian ke Cikapundung, lanjut ke Cikurai, lalu ke sungai Citarum.

“Itu mengalami sedimentasi, sehingga naik ke permukaan. Ketika naik ke permukaan, sungainya mengalami penyempitan. Jadi hulu dan hilirnya harus dibenahi,” pungkasnya. (Bas)

0 Komentar