Curah Hujan Ekstrem hingga Deforestasi, Ini Penyebab Banjir Besar di Sumatera

Curah Hujan Ekstrem hingga Deforestasi, Ini Penyebab Banjir Besar di Sumatera
Curah Hujan Ekstrem hingga Deforestasi, Ini Penyebab Banjir Besar di Sumatera -Foto:Disway
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sejumlah daerah di Provinsi Sumatera saat ini tengah mengalami banjir bandang yang menyebabkan banyak korban jiwa serta kerusakan rumah dan fasilitas umum.

Banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman karena kondisi yang terus memburuk.

Pemerintah telah bergerak cepat menanggapi bencana ini dengan menyalurkan bantuan dan melakukan penanganan di lapangan.

Baca Juga:Anti Ribet Lewat Gang Kecil! 5 Motor Listrik Ramping yang Wajib Kamu PunyaTebaru! Link Dana Kaget edisi Jumat Berkah, Saldo Rp173.000 Bisa Langsung Masuk ke Akun Kamu!

Meski begitu, masyarakat masih mempertanyakan apa penyebab utama banjir bandang di Sumatera. Berikut rangkuman faktor pemicunya.

Penyebab Banjir Bandang di Sumatera

Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan PDASRH, Dyah Murtiningsih, menjelaskan bahwa banjir besar di Sumatera dipicu oleh curah hujan ekstrem yang dipengaruhi fenomena siklon tropis.

Kondisi tersebut diperparah karena sebagian besar Daerah Aliran Sungai DAS yang terdampak berada di kawasan Areal Penggunaan Lain APL yang lebih rentan terhadap bencana hidrometeorologi.

Wahana Lingkungan Hidup WALHI Sumatera Utara memberikan pandangan berbeda. Menurut WALHI, banjir bandang dan tanah longsor di Sibolga dan Tapanuli tidak hanya disebabkan oleh cuaca ekstrem. Aktivitas manusia juga memiliki peran besar dalam memperburuk kondisi lingkungan.

Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut, Jaka Kelana Damanik, menilai bahwa bencana tersebut tidak cukup dijelaskan hanya dengan intensitas hujan tinggi. Ia mengungkapkan bahwa material berupa kayu dalam jumlah besar ikut terbawa arus ketika banjir terjadi.

Citra satelit juga menunjukkan kondisi hutan yang telah gundul di sekitar lokasi bencana. Jaka menyebut bahwa campur tangan manusia hadir melalui penebangan hutan serta kebijakan pembangunan yang tidak mempertimbangkan dampak ekologis.

Karena itu, WALHI menilai banjir bandang dan longsor yang terjadi merupakan bencana ekologis. Bencana ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan hasil pengelolaan lingkungan yang kurang baik.

Baca Juga:Modal Bagus, Arsenal Siap Tantang Chelsea di Laga Krusial Liga InggrisBanjir Besar Melanda Kota Solok: 3.362 Jiwa Terdampak, Status Tanggap Darurat Ditetapkan

Terlebih lagi, banjir bandang dan longsor di wilayah Sibolga dan Tapanuli bukan kali pertama terjadi. Kejadian serupa muncul hampir setiap tahun, terutama saat memasuki musim hujan.(*)

0 Komentar