Berdalih Tak Ada Dana untuk Fasilitas, Bangunan Galeri UMKM Senilai Rp2,2 Miliar di Kota Banjar Mangkrak!

Berdalih Tak Ada Dana untuk Fasilitas, Bangunan Galeri UMKM Senilai Rp2,2 Miliar di Kota Banjar Mangkrak!
Tampak bangunan Galeri UMKM Sukma Kenangan yang berada di area perkantoran Purwaharja nampak kosong, Senin (24/11/2015). Bangunan yang selesai tahun 2024 ini didanai dari provinsi sebesar Rp2,2 Miliar. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Bangunan megah bernama Galeri UMKM Sukma Kenanga di kawasan perkantoran Purwaharja, Kota Banjar, kini berdiri kokoh namun sepi. Bangunan senilai Rp2,2 miliar yang dianggarkan dari Bantuan Provinsi (Banprov) Jawa Barat Tahun Anggaran 2024 itu belum dapat difungsikan dan mangkrak tak berpenghuni hampir satu tahun.

Berdasarkan pantauan di lapangan, gedung yang digadang-gadang menjadi pusat pemberdayaan dan pemasaran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal tersebut tampak lengang. Meski secara struktur fisik telah rampung dibangun, ruangan di dalamnya masih kosong dari pajangan produk UMKM.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (DKUKMP) Kota Banjar, Sri Sobariah, membenarkan bahwa galeri tersebut belum dapat dioperasikan. Menurutnya, ketiadaan anggaran untuk melengkapi fasilitas penunjang menjadi penyebab utama keterlambatan pemanfaatan aset negara tersebut. “Gedungnya sudah selesai, kita targetkan akhir tahun sudah beroperasi,” ujar Sri Sobariah, Senin (24/11/2025).

Baca Juga:Sempat Mangkrak, Pembangunan Kantor BPS Banjar Kembali DilanjutkanGegara Mangkrak, Warga Tolak Lanjutan Pembangunan BPS Banjar

Penjelasan mengenai keterbatasan anggaran ini memunculkan kritik tajam. Muncul pertanyaan mendasar mengenai alasan sebuah proyek senilai miliaran rupiah disetujui dan dibangun tanpa perencanaan anggaran yang komprehensif, yang telah mencakup biaya operasional dan pemeliharaan pascakonstruksi. Kesenjangan perencanaan semacam ini dinilai sebagai bentuk kegagalan birokrasi yang berujung pada pemborosan.

Ketiadaan anggaran untuk fasilitas pendukung juga mengindikasikan adanya kemungkinan ketidakprioritasan program pemberdayaan UMKM dalam kebijakan anggaran Pemerintah Kota Banjar. Dana Rp2,2 miliar yang telah dikucurkan terancam menjadi sia-sia dan berubah menjadi liabilitas jika gedung terus dibiarkan tidak produktif.

Dampak dari mangkraknya gedung ini sudah mulai terlihat secara fisik. Laporan dari lokasi menyebutkan bahwa cat tembok gedung yang masih baru sudah menunjukkan tanda-tanda memudar, terutama pada bagian yang terpapar langsung terik matahari dan air hujan. Hal ini memperlihatkan pemborosan yang nyata, di mana sebuah aset publik sudah mengalami penurunan kualitas sebelum sempat memberikan manfaat. “Kita akan mengecat ulang bagian yang memudar tersebut,” katanya.

Padahal para pelaku UMKM di Kota Banjar memiliki harapan baru untuk memajang dan memasarkan produk unggulan mereka, mulai dari olahan pangan, kerajinan tangan, hingga produk fashion. Rencana memamerkan produk ini kepada tamu dari luar daerah juga masih menjadi wacana.

0 Komentar